Selasa, 18 Februari 2031
Cuci Tangan
Sejak kecil kita disuruh ibu mencuci tangan sebelum makan. Nasihat yang baik dan sehat. Tetapi bayangkan orang yang tangannya bersih mengilap, sementara hatinya menyimpan dengki di meja makan. Bersih yang mana yang lebih penting?
Kemarin kita mendengar kisah penciptaan sampai hari keempat; hari ini kisah itu selesai: manusia diciptakan, lalu Allah berhenti dan memberkati hari ketujuh. Injilnya justru menampilkan manusia yang sibuk dengan aturan buatannya sendiri. Orang Farisi menegur murid-murid Yesus karena makan tanpa membasuh tangan menurut adat istiadat nenek moyang.
Jawaban Yesus keras: bangsa ini memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya jauh daripada-Ku. Ia bahkan menunjukkan bagaimana adat bisa dipakai untuk mengelak dari perintah Allah: harta yang seharusnya merawat orang tua dinyatakan sebagai kurban persembahan, lalu orang tuanya dibiarkan begitu saja.
Aturan dan kebiasaan itu perlu; ia pagar yang menolong. Yang berbahaya adalah ketika pagar menjadi topeng: tampak saleh di luar untuk menutupi yang kosong di dalam, atau tampak rohani demi menghindari kewajiban kasih.
Hari ini, sebelum membasuh tangan, baik juga bertanya: apa yang perlu dibasuh dari hatiku?
Tuhan, jangan biarkan ibadahku berhenti di bibir. Dekatkanlah hatiku kepada-Mu. Amin.