Senin, 17 Februari 2031
Petang Dulu, Baru Pagi
Menurut perasaan kita, hari dimulai ketika ayam berkokok dan kita bangun. Dunia baru berjalan kalau kita sudah bekerja. Begitulah rasanya menjadi manusia: pusat dari segala jadwal.
Kitab Kejadian memakai hitungan yang lain. Perhatikan refrein yang diulang-ulang dalam kisah penciptaan: jadilah petang dan jadilah pagi. Petang disebut lebih dahulu. Bagi Israel, hari yang baru justru dimulai saat matahari terbenam, ketika manusia berhenti bekerja dan pergi tidur.
Ini bukan sekadar soal kalender. Ini pelajaran iman. Hari dimulai justru ketika kita tidak berbuat apa-apa. Allah bekerja lebih dulu, semalaman, dan pagi harinya kita bangun untuk menyusul masuk ke dalam pekerjaan yang sudah dimulai-Nya. Kita bukan pembuka hari. Kita penerima hari.
Dan sepanjang pekerjaan-Nya, Allah berulang kali berhenti untuk memandang: Allah melihat bahwa semuanya itu baik. Terang itu baik. Laut itu baik. Dunia ini, pada rancangan dasarnya, baik adanya. Mata yang beriman diajak melihat dengan cara yang sama.
Malam ini, sebelum tidur, cobalah berkata dalam hati: hari yang baru sudah dimulai, dan Allah yang memulainya. Tidurku adalah tanda percaya bahwa dunia aman di tangan-Nya.
Allah Pencipta, Engkau bekerja bahkan ketika aku lelap. Ajarilah aku memulai hariku dari tangan-Mu. Amin.