Minggu, 16 Februari 2031
Tombak di Sisi Kepala
Kesempatan membalas itu manis. Orang yang lama menyakiti kita tiba-tiba jatuh, dan kita memegang kartu untuk menghabisinya. Dunia akan memaklumi. Teman-teman malah menyemangati. Siapa yang kuat menolak, kalau semudah itu?
Daud pernah berdiri persis di titik itu. Saul mengejarnya dengan tiga ribu tentara pilihan untuk membunuhnya. Malam itu Saul tertidur nyenyak, dan Daud menyelinap sampai ke sisinya. Tombak raja terpancang di tanah dekat kepalanya. Abisai berbisik: izinkan aku menancapkan dia ke tanah, satu tikaman saja, tidak usah dua kali.
Satu anggukan, dan seluruh penderitaan Daud selesai malam itu. Tetapi Daud menolak: jangan musnahkan dia, sebab siapakah yang dapat menjamah orang yang diurapi Tuhan? Ia hanya mengambil tombak dan kendi itu, lalu pergi. Dari puncak gunung ia berseru kepada Saul, menunjukkan bahwa ia bisa membunuh, namun memilih tidak.
Orang Jawa menyebutnya wani ngalah, berani mengalah. Kata orang tua dulu, wani ngalah luhur wekasane: yang berani mengalah akan mulia pada akhirnya. Mengalah di sini bukan kalah. Justru dibutuhkan kekuatan yang jauh lebih besar untuk tidak memakai kekuatan.
Minggu lalu kita mendengar Yesus membuka khotbah-Nya di tempat yang datar dengan sabda bahagia. Hari ini lanjutannya makin menukik: kasihilah musuhmu, berbuatlah baik kepada orang yang membenci kamu, berdoalah bagi orang yang mencaci kamu. Jikalau kamu hanya mengasihi orang yang mengasihi kamu, kata-Nya, apakah jasamu? Orang berdosa pun berbuat demikian.
Ini bukan ajakan menjadi lemah atau membiarkan kejahatan merajalela. Ini undangan keluar dari hukum pantulan, di mana kebencian selalu memantulkan kebencian, tanpa ujung. Seseorang harus berani berhenti memantulkan. Hendaklah kamu murah hati, sama seperti Bapamu murah hati. Paulus menyebutnya mengenakan rupa manusia surgawi: tidak lagi hidup menurut Adam lama yang membalas, melainkan menurut Adam baru yang mengampuni.
Adakah tombak yang sedang tergeletak di dekat kita hari-hari ini: kesempatan menjatuhkan seseorang lewat kata, cerita, atau diam yang licik? Ingatlah ukuran itu: ukuran yang kamu pakai untuk mengukur akan diukurkan kepadamu.
Bapa yang murah hati, saat kesempatan membalas terbuka lebar, berilah aku keberanian Daud untuk menyarungkan tombakku. Amin.