Kamis, 13 Februari 2031
Dua Gunung
Ada dua macam anak di hadapan ayahnya. Yang satu selalu gemetar: jangan-jangan salah, jangan-jangan dihukum. Yang lain berlari menyambut di pintu. Ayahnya sama, pengalamannya berbeda jauh.
Kemarin surat Ibrani berbicara tentang didikan Tuhan. Hari ini penulisnya mengajak kita membandingkan dua gunung. Gunung pertama, Sinai: api yang menyala-nyala, kekelaman, angin badai, bunyi sangkakala, sampai Musa sendiri berkata: aku sangat ketakutan dan gemetar. Gunung kedua, Sion: kota Allah yang hidup, beribu-ribu malaikat, suatu kumpulan yang meriah.
Lalu kalimat kuncinya: kamu tidak datang ke gunung yang pertama; kamu sudah datang ke Bukit Sion. Melalui Yesus, Pengantara perjanjian baru, kita menghadap Allah bukan sebagai terdakwa yang gemetar, melainkan sebagai anak sulung yang namanya terdaftar di surga.
Kabar baiknya sesederhana ini: iman kita bukan agama ketakutan, melainkan perayaan. Takut akan Tuhan yang sejati bukanlah ngeri kepada penghukum, melainkan hormat penuh cinta kepada Bapa yang berlari menyambut.
Aku sedang berdiri di gunung yang mana: gemetar di kaki Sinai, atau ikut kumpulan meriah di Sion?
Yesus, Pengantaraku, tuntunlah aku mendaki Sion, berpindah dari takut menuju cinta. Amin.