‹ Semua renungan

Rabu, 12 Februari 2031

Pahit Dulu

Tidak ada anak yang minum jamu sambil tersenyum. Pahitnya minta ampun. Tetapi ibu-ibu kita dulu tetap menyodorkannya sambil berkata: diminum, biar sehat. Kasih sayang memang tidak selalu terasa manis di lidah.

Surat Ibrani berbicara tentang jamu yang lain: didikan Tuhan. Janganlah anggap enteng didikan Tuhan, sebab Tuhan menghajar orang yang dikasihi-Nya. Lalu menyusul kalimat yang sangat jujur: tiap-tiap ganjaran pada waktu diberikan tidak mendatangkan sukacita, tetapi dukacita. Baru kemudian ia menghasilkan buah kebenaran yang memberikan damai.

Perhatikan urutannya: pahit dulu, buah kemudian. Kita sering membaca kesulitan sebagai tanda Allah menjauh. Ibrani membaliknya: justru karena engkau anak, engkau dididik. Di manakah terdapat anak yang tidak pernah dididik oleh ayahnya?

Tentu tidak semua derita adalah didikan, dan kita tidak perlu mencari-cari sakit. Tetapi ketika kesulitan tidak terhindarkan, kita boleh bertanya dengan tenang: Tuhan sedang membentuk apa dalam diriku lewat semua ini?

Maka kuatkanlah tangan yang lemah dan lutut yang goyah. Pahit ini ada masanya, dan buahnya sedang disiapkan.

Bapa, bila didikan-Mu terasa pahit, ingatkanlah aku bahwa Engkau sedang menyehatkan jiwaku. Amin.

Buka Doa Hari Ini lengkap →