Jumat, 14 Februari 2031
Menjamu Malaikat
Tamu sering datang pada jam yang tidak enak. Nasi tinggal sedikit, rumah berantakan, badan capek. Tetapi orang tua kita mewariskan satu hukum yang tidak tertulis: tamu harus dijamu, seadanya pun jadi.
Kemarin kita diajak memandang kemegahan Bukit Sion. Hari ini surat Ibrani turun ke dapur: peliharalah kasih persaudaraan, jangan lupa memberi tumpangan. Alasannya menakjubkan: sebab dengan berbuat demikian, beberapa orang tanpa mengetahuinya telah menjamu malaikat-malaikat.
Kita memang tidak pernah tahu siapa yang sesungguhnya kita sambut. Abraham menjamu tiga orang asing di panas hari, dan ternyata menjamu Tuhan. Setiap tamu, setiap orang yang menumpang lewat di hidup kita, bisa jadi utusan yang membawa berkat.
Hari ini dunia sibuk merayakan kasih sayang. Gereja mengenang dua bersaudara, Sirilus dan Metodius, yang membawa kasih itu lebih jauh. Mereka datang sebagai tamu ke bangsa Slavia, lalu menyusun abjad bagi bangsa itu, supaya orang-orang mendengar Injil dalam bahasa ibunya sendiri. Tamu yang baik ternyata bisa mengubah sejarah sebuah bangsa.
Siapa yang mengetuk pintu hidupku belakangan ini, dan bagaimana aku menyambutnya?
Tuhan, jadikanlah rumahku dan hatiku tempat singgah yang ramah bagi para utusan-Mu. Amin.