‹ Semua renungan

Selasa, 4 Februari 2031

Sabun Tukang Penatu

Baju putih itu paling jujur. Dipakai beberapa kali, warnanya mulai kusam. Direndam saja tidak cukup. Harus ada sabun, ada kucekan, kadang ada sikat. Noda tidak pernah pergi hanya karena didiamkan.

Maleakhi menubuatkan kedatangan Tuhan dengan dua gambar yang mengejutkan: api tukang pemurni logam dan sabun tukang penatu. Bukan gambar yang manis. Api itu panas, sabun itu mengucek. Tuhan yang kita rindukan datang bukan hanya untuk menghibur, tetapi juga untuk membersihkan.

Nubuat itu digenapi dengan cara yang tidak terduga. Yang masuk ke bait Allah bukan hakim berapi-api, melainkan bayi berumur empat puluh hari dalam gendongan ibunya, yang disambut Simeon dengan pujian. Pemurnian itu ternyata bekerja pelan, dari dekat, sepanjang hidup. Seperti sabun: lembut di tangan, keras terhadap noda.

Kita sering ingin Tuhan yang merendam saja, tidak usah mengucek. Padahal justru bagian yang tidak enak itulah tanda Ia sedang mengerjakan kita, supaya persembahan kita menyenangkan hati-Nya seperti pada hari-hari dahulu kala.

Bagian mana dari hidupku yang selama ini kudiamkan karena takut dikucek?

Tuhan, murnikanlah aku pelan-pelan, sampai hatiku layak menjadi persembahan yang berkenan bagi-Mu. Amin.

Buka Doa Hari Ini lengkap →