Kamis, 30 Januari 2031
Bara yang Terpisah
Kemarin surat Ibrani mengajak kita menghampiri Allah dengan hati yang tulus. Hari ini ia memberi nasihat yang sangat praktis. 'Janganlah kita menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah kita, tetapi marilah kita saling menasihati.' Sebuah peringatan sederhana, jangan menyendiri.
Siapa yang pernah memasak dengan tungku arang mengerti gambaran ini. Selama bara-bara berkumpul, mereka saling menyalakan, dan api bertahan lama membara. Tetapi coba tarik satu bara keluar, pisahkan dari yang lain. Dalam beberapa menit ia meredup, lalu dingin, lalu jadi arang hitam yang mati. Bukan karena bara itu jelek, melainkan karena ia sendirian.
Iman kita mirip bara itu. Ia bisa hidup karena ditopang yang lain. Kehangatan kita sering datang bukan dari kekuatan sendiri, melainkan dari kebersamaan. Bertemu, berdoa bersama, saling menegur, saling menopang, itulah yang menjaga api tetap menyala. Orang yang menjauh dari umat, yang merasa cukup beriman sendiri di rumah, pelan-pelan mendingin tanpa ia sadari.
Ada memang kalimat yang sering kita dengar, cukup iman di hati saja. Tetapi bara tidak pernah menyala sendirian. Kita saling dibutuhkan justru agar tidak padam.
Adakah aku mulai menarik diri dari kebersamaan umat, dan diam-diam mulai mendingin?
Tuhan, jangan biarkan aku menyendiri sampai padam. Satukan aku dengan saudara-saudari seiman, agar kami saling menjaga api yang Kaunyalakan. Amin.