Rabu, 29 Januari 2031
Yang Cepat Tumbuh
Beberapa hari ini surat Ibrani membawa kita memandang korban Kristus yang satu kali untuk selamanya. Hari ini Injil berpindah ke sebuah kebun, ke perumpamaan penabur. Dari empat jenis tanah yang disebut Yesus, ada satu yang menarik untuk kita renungkan, yaitu tanah berbatu.
Benih yang jatuh di tanah berbatu justru tumbuh paling cepat. 'Benih itu segera tumbuh, karena tanahnya tipis.' Tetapi begitu matahari terbit, ia layu, sebab tidak berakar. Cepat naik, cepat mati. Yesus menjelaskan sendiri, itulah orang yang menerima firman dengan gembira, tetapi tahan sebentar saja, lalu murtad ketika datang kesulitan.
Siapa yang pernah berkebun tahu gejala ini. Tanaman yang tumbuh terlalu cepat di tanah tipis biasanya rapuh. Yang tumbuh lambat tetapi berakar dalam justru bertahan menghadapi kemarau. Akar tidak kelihatan dari atas, tetapi akarlah yang menentukan siapa yang bertahan.
Iman pun begitu. Ada semangat yang menyala cepat, baru pulang retret, baru dengar khotbah yang menggetarkan, hati langsung berkobar. Itu bagus. Tetapi kobaran tanpa akar tidak tahan panas. Ketika masalah datang, semangat itu layu secepat munculnya. Akar iman tumbuh di tempat yang tak terlihat, doa yang sunyi, setia pada hal kecil, tekun walau tak ada yang memuji.
Imanku hari ini, apakah cuma tunas hijau yang cepat naik, atau sudah menghunjamkan akar yang tahan kemarau?
Tuhan, jangan biarkan imanku sekadar menyala sesaat. Tumbuhkan akar yang dalam di dalam diriku, agar aku bertahan ketika panas datang. Amin.