‹ Semua renungan

Minggu, 26 Januari 2031

Di Depan Cermin yang Samar

Minggu lalu Yesus berdiri di rumah ibadat Nazaret, membuka Kitab Yesaya, dan berkata bahwa nas itu genap pada hari itu juga. Hari ini Injil melanjutkan adegan yang sama, tetapi suasananya berubah masam. Orang-orang sekampung mulai bergumam, 'Bukankah Ia ini anak Yusuf?' Mereka melihat Yesus, tetapi hanya sebatas anak tetangga yang mereka kenal sejak kecil.

Di sinilah letak persoalan yang halus. Orang Nazaret mengira sudah mengenal Yesus, padahal pengenalan mereka cuma sepotong. Mereka tahu asal-usul-Nya, pekerjaan bapak-Nya, wajah-Nya waktu kecil. Tetapi justru merasa sudah tahu itulah yang membuat mereka menutup pintu. Yang paling sukar dikenali memang yang kita anggap sudah kita kenal.

Rasul Paulus, di bacaan kedua, menaruh gambaran yang pas. 'Sekarang kita melihat dalam cermin suatu gambaran yang samar-samar.' Cermin zaman dulu bukan kaca bening seperti sekarang, melainkan logam yang dipoles, yang hanya memantulkan bayangan kabur. Begitulah cara kita mengenal, termasuk mengenal Tuhan dan sesama, samar, tidak utuh, penuh prasangka.

Tetapi ada satu arah pengenalan yang tidak pernah kabur. Nabi Yeremia mendengarnya, 'Sebelum Aku membentuk engkau dalam rahim ibumu, Aku telah mengenal engkau.' Sementara kita cuma mengenal secara samar, Allah mengenal kita dengan sempurna, bahkan sebelum kita ada. Kita meraba-raba, Ia menatap jelas.

Paulus menaruh gambar lain di sebelahnya. Dulu waktu kanak-kanak, katanya, ia berpikir seperti kanak-kanak, tetapi sesudah dewasa ia meninggalkan cara itu. Pengenalan memang bertumbuh. Yang dulu kita kira sudah lengkap ternyata baru sepotong. Maka berbahaya kalau kita membekukan penilaian atas seseorang, seolah ia tak mungkin berubah. Orang Nazaret membekukan Yesus pada gambar seorang anak tukang kayu, dan mereka pun kehilangan Dia.

Maka Paulus menutup dengan yang paling penting. Pengetahuan kita akan lenyap, nubuat akan berakhir, tetapi kasih tidak berkesudahan. Karena kita tidak pernah bisa mengenal siapa pun secara lengkap, satu-satunya jalan yang aman adalah mengasihi. Kasih tidak menunggu mengerti sepenuhnya. Ia menerima lebih dulu, seperti Yeremia diterima sebelum ia lahir.

Orang Nazaret gagal justru karena merasa sudah tahu. Kita pun bisa begitu terhadap orang serumah, terhadap Tuhan yang kita kira sudah kita pahami.

Siapa yang selama ini kuanggap sudah kukenal luar dalam, padahal sebenarnya baru kulihat samar-samar, dan pantas kudekati lagi dengan kasih?

Tuhan, aku cuma mengenal secara samar, tetapi Engkau mengenalku dengan sempurna dan tetap mengasihi. Ajar aku mengasihi tanpa menunggu mengerti segalanya. Amin.

Buka Doa Hari Ini lengkap →