Sabtu, 25 Januari 2031
Ternyata Aku yang Kausakiti
Hari ini kita merayakan pertobatan Santo Paulus. Waktu itu ia masih bernama Saulus, sedang dalam perjalanan ke Damsyik untuk menangkap para pengikut Yesus. Ia yakin sedang membela Allah. Lalu cahaya menyambar, ia rebah, dan terdengarlah suara, 'Saulus, Saulus, mengapakah engkau menganiaya Aku?'
Ada satu kata di kalimat itu yang mengubah segalanya. Aku. Saulus mengira ia sedang mengejar sekumpulan pengikut ajaran baru, manusia-manusia biasa. Tetapi Yesus berkata, yang kauaniaya itu Aku. Menyakiti para murid ternyata sama dengan menyakiti Tuhan sendiri.
Tubuh kita mengajarkan hal yang serupa. Kalau kaki menginjak paku, bukan cuma kaki yang berteriak. Seluruh tubuh menegang, mulut mengaduh, mata berair. Kepala ikut merasakan luka anggota yang paling jauh. Sebab kaki dan kepala satu tubuh. Melukai satu bagian berarti melukai keseluruhannya.
Begitulah Kristus memandang umat-Nya. Ia menyebut Gereja sebagai tubuh-Nya. Maka setiap kali kita menyakiti sesama, mengucilkan yang lemah, memfitnah yang tak berdaya, kita tidak sedang berurusan dengan manusia saja. Kita sedang menyentuh Dia yang menjadi Kepala. Suara yang sama masih bertanya kepada kita, mengapa engkau menganiaya Aku?
Adakah orang yang kusakiti belakangan ini, tanpa sadar bahwa dalam dirinya aku sedang menyakiti Kristus?
Tuhan, buka mataku bahwa dalam setiap sesama ada Engkau. Ampuni luka yang kutorehkan, dan jadikan aku pembawa sembuh, bukan sakit. Amin.