‹ Semua renungan

Minggu, 19 Januari 2031

Kirim Sebagian

Ada pemandangan yang mengharukan dalam Kitab Nehemia. Sesudah puluhan tahun terbuang, umat Israel akhirnya berkumpul kembali di Yerusalem. Imam Ezra berdiri di mimbar kayu dan membacakan Kitab Taurat dari pagi sampai tengah hari. Firman itu dibacakan dengan jelas dan diberi keterangan, 'sehingga pembacaan dimengerti.'

Dan apa reaksi orang banyak? Mereka menangis. Baru sekarang mereka sungguh mendengar dan mengerti sabda yang selama ini terasa jauh. Tangis itu wajar. Tetapi jawaban Nehemia justru mengejutkan. 'Jangan kamu berdukacita dan menangis. Sukacita karena TUHAN itulah perlindunganmu.'

Lalu ada perintah kecil yang sering terlewat. 'Pergilah, makanlah sedap-sedapan, dan kirimlah sebagian kepada mereka yang tidak sedia apa-apa.' Sukacita karena firman tidak berhenti di dalam diri. Ia mengalir keluar, menjadi kiriman makanan bagi yang tak punya. Mendengar sabda dan berbagi rezeki, di situ, disatukan dalam satu napas.

Injil hari ini menaruh adegan yang serupa. Yesus berdiri di rumah ibadat Nazaret, membuka Kitab Yesaya, dan membaca tentang kabar baik bagi orang miskin. Lalu Ia berkata, 'Pada hari ini genaplah nas ini sewaktu kamu mendengarnya.' Sama seperti di zaman Ezra, firman itu tidak tinggal di masa lampau. Ia menjadi hari ini.

Paulus menambahkan gambaran ketiga, jemaat sebagai satu tubuh. 'Jika satu anggota menderita, semua anggota turut menderita.' Inilah benang yang menyatukan ketiga bacaan. Firman didengar bersama, di dalam satu tubuh, lalu mendorong kita mengirim sebagian kepada yang kekurangan. Sabda yang sungguh masuk selalu keluar lagi sebagai kasih.

Sungguh menyentuh membayangkan umat itu berdiri berjam-jam, dari pagi sampai tengah hari, hanya untuk mendengar. Mereka tidak buru-buru. Firman yang lama hilang kini kembali, dan mereka tak mau melewatkan satu kalimat pun. Betapa berbeda dengan telinga kita yang gampang bosan, yang kerap menganggap sabda sebagai selingan, bukan santapan.

Kita gampang menikmati khotbah yang bagus, merasa tersentuh, lalu pulang tanpa apa-apa berubah. Padahal ukuran bahwa firman sudah sungguh kita dengar bukanlah air mata di gereja, melainkan sepiring yang kita kirim ke rumah tetangga yang kekurangan.

Minggu ini, kepada siapa aku bisa mengirim sebagian, supaya sukacitaku akan sabda menjelma jadi berkat bagi orang lain?

Tuhan, sabda-Mu yang kudengar hari ini jangan berhenti di hatiku. Ubahlah ia menjadi roti yang kubagi. Sukacita karena Engkau, jadikan perlindungan bagi banyak orang. Amin.

Buka Doa Hari Ini lengkap →