Senin, 20 Januari 2031
Pelajaran yang Menyakitkan
Ada hal yang tidak bisa dipelajari dari buku. Seorang anak boleh seratus kali diberi tahu bahwa api itu panas. Tetapi ada satu jenis pengertian yang baru datang setelah jarinya sendiri tersentuh bara. Menyakitkan, memang. Namun pelajaran itu menempel seumur hidup.
Surat Ibrani hari ini mengucapkan kalimat yang berani tentang Yesus. 'Sekalipun Ia adalah Anak, Ia telah belajar menjadi taat dari apa yang telah diderita-Nya.' Ia adalah Anak Allah, tetapi ketaatan-Nya pun ditempa lewat penderitaan. Bukan karena tadinya Ia tidak taat, melainkan karena ada kedalaman ketaatan yang hanya terbuka lewat jalan yang berat.
Kita sering berdoa minta jalan yang mulus. Wajar, tak ada orang waras yang mencari penderitaan. Tetapi kalau kita jujur menengok ke belakang, pelajaran terpenting dalam hidup jarang datang dari masa nyaman. Kesabaran kita tumbuh justru saat dipaksa menunggu. Belas kasih kita lahir justru setelah kita sendiri pernah terluka.
Ini bukan berarti Tuhan gemar melihat kita sakit. Yesus sendiri di taman menangis meminta cawan itu berlalu. Tetapi kesulitan yang tidak kita cari, bila diserahkan kepada Allah, bisa menjadi ruang kelas. Di situ kita belajar hal yang tak diajarkan oleh hari-hari mudah.
Kesulitan apa yang sedang kualami, yang mungkin sebenarnya sedang mengajariku sesuatu yang tak bisa kupelajari dengan cara lain?
Tuhan, aku tak meminta penderitaan. Tetapi bila ia datang, ajar aku belajar taat di dalamnya, seperti Anak-Mu. Amin.