Jumat, 17 Januari 2031
Kerja Keras untuk Berhenti
Hari ini Gereja mengenang Santo Antonius Abas. Ia orang kaya yang suatu hari mendengar Injil, lalu melepaskan segala miliknya dan pergi ke padang gurun untuk mencari Allah. Anehnya, yang ia cari di gurun sunyi itu bukan kesibukan baru, melainkan perhentian, ketenangan di dalam Tuhan.
Surat Ibrani memakai kata yang sama dan menaruh sebuah paradoks. 'Baiklah kita berusaha untuk masuk ke dalam perhentian itu.' Berusaha untuk beristirahat. Bekerja keras supaya bisa berhenti. Kedengarannya janggal, tetapi jujur.
Sebab beristirahat ternyata tidak mudah. Kita hidup di zaman yang menganggap diam itu buang-buang waktu. Tangan berhenti, tetapi kepala terus berlari. Badan rebahan, tetapi pikiran memutar rencana esok. Kita seperti mesin yang lupa cara dimatikan. Bahkan waktu berdoa pun, hati kita masih menghitung pekerjaan.
Antonius mengajarkan bahwa perhentian sejati bukan sekadar tidak bekerja. Ia adalah kepercayaan. Orang bisa berhenti kalau ia yakin dunia tidak akan runtuh tanpa tangannya. Perhentian yang dimaksud Kitab Suci adalah rasa aman di pangkuan Allah, bahwa Ia yang memegang segalanya, bukan aku.
Kapan terakhir kali aku sungguh berhenti, bukan karena kehabisan tenaga, melainkan karena percaya bahwa Tuhan yang memegang kendali?
Tuhan, ajar aku berhenti. Lepaskan genggamanku yang tak mau lepas, dan bawalah aku masuk ke dalam perhentian-Mu. Amin.