Selasa, 14 Januari 2031
Kuasa yang Tak Dikutip
Kemarin kita melihat Yesus berjalan di tepi Danau Galilea dan memanggil para nelayan, 'Mari, ikutlah Aku.' Hari ini rombongan kecil itu tiba di Kapernaum, dan Yesus masuk ke rumah ibadat lalu mengajar. Reaksi orang dicatat dengan jelas. 'Mereka takjub, sebab Ia mengajar sebagai orang yang berkuasa, tidak seperti ahli-ahli Taurat.'
Kalimat pembandingnya menarik. Tidak seperti ahli Taurat. Ahli Taurat adalah orang pandai. Mereka hafal ayat, tahu pendapat guru ini dan guru itu. Cara mereka mengajar biasanya dengan mengutip, menurut rabi anu, menurut kitab sana. Ilmu mereka betul, tetapi seperti barang pinjaman.
Yesus lain. Ia tidak berkata menurut si anu. Ia berbicara dari dalam, dari sumbernya sendiri. Kuasa-Nya tidak dikutip dari mana-mana. Itulah yang membuat orang tercengang, bahkan membuat roh jahat gemetar dan pergi.
Kita pun bisa terjebak menjadi ahli Taurat. Bicara tentang iman dengan rapi, penuh istilah, penuh kutipan, tetapi hampa dari perjumpaan sendiri dengan Tuhan. Orang bisa merasakan bedanya. Kata-kata yang cuma dihafal terdengar nyaring tetapi kosong. Kata-kata yang lahir dari doa terdengar sederhana tetapi berbobot.
Ketika aku bicara soal Tuhan, apakah itu barang pinjaman, atau sesuatu yang sungguh kualami sendiri?
Tuhan, aku tak mau cuma mengutip tentang Engkau. Bawa aku berjumpa dengan-Mu, agar imanku bukan hafalan, melainkan pengalaman. Amin.