‹ Semua renungan

Minggu, 12 Januari 2031

Dikasihi Sebelum Berbuat

Sebelum Yesus mengajar satu kalimat, sebelum Ia menyembuhkan satu orang, sebelum satu mukjizat pun terjadi, langit sudah terbuka dan sebuah suara terdengar. 'Engkaulah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Mu Aku berkenan.' Perhatikan waktunya. Suara itu datang di awal, bukan di akhir. Yesus dikasihi lebih dulu, baru kemudian berkarya.

Kita biasanya membalik urutan ini. Kita mengira kasih harus dijemput dengan prestasi. Anak merasa dicintai kalau nilainya bagus. Pekerja merasa dihargai kalau targetnya tercapai. Diam-diam kita membawa hitungan itu ke hadapan Tuhan juga, seakan Ia baru akan berkenan kalau kita sudah cukup rajin, cukup suci, cukup berguna.

Tetapi di tepi Sungai Yordan, Bapa berkenan kepada Anak yang belum melakukan apa-apa di depan umum. Kasih itu bukan upah. Kasih itu titik berangkat. Yesus melangkah ke dalam pelayanan-Nya yang berat bukan untuk mendapatkan kasih Bapa, melainkan dari dalam kasih yang sudah Ia miliki.

Nabi Yesaya melukiskan Allah yang seperti ini. 'Seperti seorang gembala Ia menggembalakan kawanan ternak-Nya, anak-anak domba dipangku-Nya.' Domba yang dipangku tidak sedang menghasilkan apa-apa. Ia cuma dipeluk. Nilainya bukan pada apa yang ia kerjakan, melainkan pada tangan yang menggendongnya.

Paulus menegaskannya kepada Titus. Kita diselamatkan 'bukan karena perbuatan baik yang telah kita lakukan, tetapi karena rahmat-Nya, oleh permandian kelahiran kembali.' Pembaptisan kita sendiri adalah gema dari suara di Yordan itu. Pada hari kita dibaptis, kita belum bisa berbuat apa-apa, banyak dari kita masih bayi. Namun di situ kita sudah disebut anak yang dikasihi.

Bacaan pertama pun dibuka dengan nada yang sama lembutnya. 'Hiburkanlah, hiburkanlah umat-Ku,' firman Allah, diucapkan dua kali seperti tangan yang mengusap berulang. Sebelum menuntut apa-apa, Allah menghibur. Sebelum menyuruh umat berbenah, Ia menenangkan hati mereka lebih dulu. Suara di Yordan itu adalah puncak dari nada yang sudah lama terdengar, Allah yang mendekat bukan untuk menagih, melainkan untuk merangkul.

Inilah yang membebaskan. Kalau kasih Tuhan bukan upah, maka aku tak perlu takut kehilangannya setiap kali gagal. Aku bekerja bukan supaya dikasihi, melainkan karena sudah dikasihi. Kegagalan tidak lagi menjadi bukti bahwa aku tak berharga, sebab harga itu sudah ditetapkan lebih dulu oleh suara dari langit.

Hari ini, apakah aku masih mencoba membeli kasih yang sebenarnya sudah diberikan cuma-cuma?

Bapa, sebelum aku berbuat apa-apa, Engkau sudah menyebutku anak yang Kaukasihi. Biar seluruh hidupku mengalir dari suara itu, bukan mengejarnya. Amin.

Buka Doa Hari Ini lengkap →