‹ Semua renungan

Sabtu, 11 Januari 2031

Asap yang Naik

Di antara tiga persembahan majus, ada satu yang mudah terlupa. Emas mudah dimengerti, itu untuk raja. Mur mudah kita ingat karena getir, kelak untuk pemakaman. Tetapi kemenyan? Kemenyan adalah getah pohon yang dibakar, dan asapnya naik ke atas. Sejak dahulu asap itu melambangkan doa yang membubung kepada Allah.

Yesaya sudah menyebutnya. Bangsa-bangsa akan datang 'membawa emas dan kemenyan, serta memberitakan perbuatan masyhur TUHAN.' Kemenyan dan pujian disebut bersama. Sebab keduanya satu jenis, sesuatu yang kita naikkan, bukan yang kita minta turun.

Coba perhatikan, doa kita sering seperti daftar belanja. Semua kalimatnya menunjuk ke bawah, minta ini diberi, itu dihindarkan. Tidak salah. Tetapi kemenyan mengajarkan doa yang lain, doa yang naik tanpa meminta apa-apa, doa yang isinya hanya menyembah. Asap yang membubung bukan karena mengharap balasan, melainkan karena Tuhan memang layak disembah.

Orang-orang Timur itu menempuh perjalanan jauh, dan yang mereka lakukan di ujung jalan bukan mengajukan permohonan. Mereka sujud. Mereka membakar kemenyan. Mereka memberi, bukan meminta.

Kalau semua permintaanku dicabut dari doaku hari ini, masih adakah yang tersisa untuk kunaikkan kepada Tuhan?

Tuhan, ajarilah aku berdoa seperti asap kemenyan, naik kepada-Mu bukan untuk menagih, melainkan untuk menyembah. Amin.

Buka Doa Hari Ini lengkap →