Jumat, 10 Januari 2031
Tanda yang Berhenti
Bintang para majus melakukan dua hal. Ia menuntun, lalu ia berhenti. 'Bintang itu mendahului mereka hingga tiba dan berhenti di atas tempat di mana Anak itu berada.' Sampai di situ tugas bintang selesai. Selebihnya, para majus sendiri yang harus melangkah masuk ke dalam rumah.
Sebuah tanda memang begitu. Ia menunjuk arah, tetapi tidak menggendong kita sampai tujuan. Papan penunjuk di pertigaan jalan berkata Betlehem lima kilometer, lalu ia diam. Ia tidak ikut berjalan. Kaki kita sendiri yang harus menempuh sisa jaraknya.
Kita kadang menunggu tanda yang mustahil, tanda yang sekaligus mengangkat dan mengantar kita masuk tanpa kita bergerak. Kita minta Tuhan bukan hanya menunjukkan jalan, tetapi juga menjalankannya untuk kita. Padahal Tuhan lebih sering bekerja seperti bintang itu. Ia menuntun sampai ambang pintu, lalu berhenti, menanti kita mengetuk.
Bintang berhenti di atas atap. Tetapi para majus tidak menyembah bintang. Mereka masuk, dan menemukan bayi itu. Tanda hanyalah tanda, ia bukan tujuan. Celakalah kalau kita begitu sibuk mengagumi petunjuk sampai lupa berjalan menuju yang ditunjuk.
Petunjuk apa yang sudah lama Tuhan taruh di depanku, sebuah undangan yang terang, tetapi belum juga kulangkahi?
Tuhan, terima kasih untuk setiap tanda yang Kaupasang. Kini beri aku kaki untuk menempuh sisa jalan menuju-Mu. Amin.