Jumat, 3 Januari 2031
Muatan yang Berbelok
Di jalur dagang zaman dahulu, karavan unta adalah truk pengangkut masa kini. Ia berangkat dari Syeba, dari Midian, menempuh padang pasir berminggu-minggu. Muatannya mahal, emas, kemenyan, rempah. Dan semua itu biasanya punya satu tujuan pasti, yaitu istana raja-raja besar. Begitu aturannya.
Yesaya melihat pemandangan yang aneh. 'Sejumlah besar unta akan menutupi daerahmu, membawa emas dan kemenyan.' Muatan yang biasanya mengalir ke istana, kali ini berbelok. Ia mengalir ke tempat terang Tuhan terbit. Bukan ke pusat kuasa, melainkan ke pusat kemuliaan.
Injil menunjukkan belokan itu terjadi sungguh-sungguh. Para majus mula-mula datang ke Yerusalem, ke istana Herodes. Wajar. Kalau ada raja lahir, di mana lagi kalau bukan di istana? Tetapi bintang tidak berhenti di atas istana. Ia berhenti di atas sebuah rumah biasa di Betlehem. Di situlah emas, kemenyan, dan mur akhirnya diletakkan.
Kadang kita pun mengantar muatan berharga ke alamat yang salah. Waktu terbaik kita, tenaga terbaik kita, cinta terbaik kita, kita antar ke istana-istana kecil, yaitu pujian orang, kedudukan, rasa aman. Padahal terang itu terbit di tempat lain.
Ke mana selama ini muatan hidupku kuantar? Ke istana yang meminta, atau ke palungan yang menerima?
Tuhan, belokkanlah muatan hidupku kepada-Mu. Biar yang terbaik dariku tiba di alamat yang benar. Amin.