‹ Semua renungan

Rabu, 1 Januari 2031

Menyimpan dan Menimbang

Ada ibu yang menyimpan hal-hal kecil. Sehelai gelang bayi. Gigi susu yang pertama tanggal. Secarik kertas berisi coretan tangan yang belum bisa menulis huruf. Di pasar loak barang itu tak laku sepeser pun. Tetapi cobalah minta ibu itu membuangnya. Ia akan menggeleng.

Hari ini kita berdiri di halaman pertama sebuah tahun. Biasanya halaman itu kita isi dengan daftar keinginan. Mau begini, mau begitu, mau berubah. Tetapi Injil hari ini tidak menaruh daftar di tangan kita. Ia menaruh sebuah sikap. 'Maria menyimpan segala perkara itu di dalam hatinya dan merenungkannya.'

Kata merenungkan di sini berarti menaruh banyak hal berdampingan, lalu menimbangnya. Seperti orang di pasar menimbang dua ikat sayur pada dua telapak tangan. Maria tidak langsung paham semuanya. Gembala datang tengah malam membawa cerita ganjil tentang malaikat dan nyanyian di langit. Ia tidak berdebat. Ia juga tidak lekas lupa. Ia simpan. Ia timbang. Ia biarkan mengendap.

Betapa berbeda dengan kita. Yang cepat datang cepat pula kita buang. Kabar pagi sudah basi sebelum petang. Hati kita seperti jalan raya, semua lewat, tak ada yang singgah.

Rasul Paulus menaruh alasannya. Kita bukan lagi hamba, melainkan anak. Dan karena kita anak, Roh di dalam hati kita berani berseru, 'ya Abba, ya Bapa.' Seorang hamba menghitung upah pada akhir hari lalu pergi. Seorang anak menyimpan wajah bapaknya di dalam hati, dan membawanya ke mana-mana.

Maka tahun ini tidak kita mulai dengan menggenggam target. Kita mulai dengan menerima berkat. 'TUHAN menyinari engkau dengan wajah-Nya,' kata Musa kepada Harun. Sebelum kita berbuat apa-apa, wajah itu sudah berpaling kepada kita. Tugas pertama kita bukan mencapai, melainkan menyimpan. Menyimpan bahwa kita dikenal, dinamai, dikasihi.

Ada satu detail kecil dalam berkat Harun. Nama TUHAN disebut tiga kali, seperti tangan yang diletakkan berulang di atas kepala. 'Demikianlah mereka meletakkan nama-Ku atas orang Israel,' firman-Nya. Berkat bukan mantra untuk menolak sial, melainkan nama Allah yang ditaruh atas hidup kita. Dan nama itu diberikan kepada umat yang belum berbuat apa-apa di tahun yang baru. Persis seperti Maria, yang menerima lebih dulu, baru kemudian menyimpannya.

Adakah satu perbuatan Tuhan tahun lalu yang belum sempat kutimbang, dan terlanjur kubuang?

Tuhan, di hari pertama ini ajarilah aku menyimpan seperti Maria. Bukan menggenggam keinginanku, melainkan menimbang kebaikan-Mu. Amin.

Buka Doa Hari Ini lengkap →