‹ Semua renungan

Minggu, 22 Desember 2030

Ketika Zakharia Dibisukan

Ada pasangan lanjut usia yang sudah lama berhenti berharap. Bertahun-tahun mereka menanti anak, dan bertahun-tahun rumah tetap sunyi dari tangis bayi. Elisabet mandul, dan keduanya sudah tua. Kisah seperti itu biasanya berakhir dengan pasrah. Tetapi Kitab Suci suka memulai justru dari tempat orang berhenti berharap.

Bacaan hari ini menaruh dua kisah kelahiran yang mirip berdampingan. Isteri Manoah yang mandul dikabari akan melahirkan Simson. Dan Elisabet yang tua dikabari akan melahirkan Yohanes. Dua rahim yang menurut hitungan manusia sudah tertutup, dibuka oleh tangan Allah. Seakan Allah ingin menegaskan satu hal: kelahiran seorang penyelamat selalu karunia, bukan hasil usaha. Yang tidak mungkin bagi manusia menjadi ladang kesukaan-Nya.

Tetapi ada satu bagian dari kisah Zakharia yang menarik untuk direnungkan pada Minggu terakhir Adven ini. Ketika ia meragukan kabar malaikat, ia tidak dihukum dengan bencana. Ia hanya dibuat bisu. Selama berbulan-bulan sampai anaknya lahir, Zakharia tidak bisa berkata-kata.

Sekilas itu hukuman. Tetapi barangkali itu juga rahmat yang menyamar. Zakharia si imam, yang biasa memimpin doa dan berkata-kata di Bait Allah, sekarang dipaksa diam. Dan dalam diam yang panjang itu, sebuah kehidupan baru bertumbuh perlahan di rumahnya, tanpa perlu ia komentari. Kadang Tuhan membisukan kita bukan untuk menghukum, melainkan supaya kita berhenti banyak bicara dan mulai mendengar apa yang sedang Ia kerjakan.

Kita hidup di zaman yang gaduh. Semua orang ingin bersuara, semua peristiwa harus segera dikomentari. Padahal ada karya Allah yang hanya tumbuh dalam sunyi, seperti benih di dalam tanah yang gelap. Orang tua kita di Jawa punya nasihat pendek, sing sabar, yang sabarlah. Menanti memang butuh sabar, dan sabar sering butuh diam.

Menariknya, ketika Zakharia akhirnya bisa bicara lagi sesudah Yohanes lahir, kata pertama yang keluar dari mulutnya bukan keluhan atas bulan-bulan bisunya, melainkan pujian. Sunyi yang panjang itu rupanya tidak mengeringkan hatinya, malah memenuhinya sampai meluap menjadi madah. Diam yang benar memang tidak pernah kosong. Ada yang justru tumbuh di dalamnya.

Adven hampir usai. Barangkali yang paling kita butuhkan menjelang Natal bukan menambah kata, melainkan menyediakan sunyi. Sebab di dalam sunyi itulah, seperti di rahim Elisabet, Allah sedang menumbuhkan sesuatu. Beranikah kita diam cukup lama untuk mendengar-Nya?

Tuhan, di tengah hari-hari yang gaduh, ajarilah aku diam. Dalam sunyi itu tumbuhkanlah karya-Mu, dan buatlah aku sabar menanti. Amin.

Buka Doa Hari Ini lengkap →