Sabtu, 21 Desember 2030
Nama itu Imanuel
Kemarin daftar nama yang panjang itu berakhir di satu nama: Yusuf, suami Maria. Hari ini kamera Injil mendekat, dan kita melihat lelaki di ujung silsilah itu sedang menghadapi malam tersulit dalam hidupnya.
Maria mengandung, dan Yusuf tahu bukan dari dirinya. Injil menyebut Yusuf orang yang tulus hati. Ia tidak mau mempermalukan Maria di muka umum, maka ia berniat menceraikannya diam-diam. Sebuah keputusan yang sudah selembut mungkin menurut ukuran manusia. Tetapi rencana Allah lebih lembut lagi.
Dalam mimpi, malaikat berkata, jangan takut mengambil Maria sebagai isterimu. Dan Yusuf, tokoh yang tak pernah diberi satu patah kata pun untuk diucapkan sepanjang Injil, hanya bangun dan melakukan. Imannya bukan kata-kata, melainkan tindakan diam yang taat.
Di tengah kisah itu disebutlah sebuah nama yang menjadi inti seluruh Adven. Anak itu akan dinamai Imanuel, yang berarti Allah menyertai kita. Bukan Allah yang mengawasi dari jauh. Bukan Allah yang menuntut dari atas. Allah yang menyertai, ikut serta, tinggal di tengah rumah tangga sesederhana rumah tukang kayu di Nazaret.
Kalau Allah rela menyertai keluarga Yusuf yang penuh teka-teki, tidakkah Ia juga mau menyertai rumah kita dengan segala perkaranya, hari ini?
Imanuel, Allah yang menyertai, tinggallah di rumahku. Ajarilah aku taat dalam diam seperti Yusuf. Amin.