Kamis, 19 Desember 2030
Biar Gunung Beranjak
Kemarin kita mendengar Yohanes bertanya dari penjara, apakah Yesus sungguh yang dinanti. Hari ini Yesus berbalik memuji Yohanes di depan orang banyak, seakan membela sahabat yang sedang goyah. Untuk apa kamu pergi ke padang gurun, tanya-Nya. Melihat buluh yang digoyang angin? Bukan. Kamu pergi melihat seorang nabi, bahkan lebih dari nabi.
Buluh digoyang angin. Gambar tentang sesuatu yang mudah bergeser, ikut ke mana angin bertiup. Yohanes bukan itu. Ia tetap tegak meski di penjara.
Dan ketegakan itu punya sumbernya. Bacaan pertama menyingkapkannya lewat firman Tuhan yang termanis dalam seluruh Kitab Yesaya. "Biarpun gunung-gunung beranjak dan bukit-bukit bergoyang, tetapi kasih setia-Ku tidak akan beranjak dari padamu." Coba bayangkan. Gunung, benda yang paling kita anggap tetap, ternyata bisa beranjak. Tetapi kasih Tuhan lebih tetap daripada gunung.
Kita sering membangun rasa aman di atas hal-hal yang kita kira sekokoh gunung. Pekerjaan, kesehatan, orang-orang yang kita cintai. Lalu suatu hari salah satunya bergeser, dan tanah seakan runtuh. Di saat itulah janji ini menjadi pegangan terakhir. Semua boleh beranjak, tetapi kasih setia-Nya tidak.
Kalau hari ini ada gunung dalam hidup kita yang mulai bergoyang, kepada apa sesungguhnya kita bersandar?
Tuhan, saat yang kukira kokoh mulai runtuh, ingatkan aku bahwa kasih setia-Mu tidak pernah beranjak. Kepada-Mulah aku bersandar. Amin.