Rabu, 18 Desember 2030
Hujankanlah Keadilan
Musim hujan punya bunyi yang khas di atap seng. Mula-mula ragu, satu dua tetes. Lalu deras, menyiram tanah yang retak kehausan sampai basah dan gembur kembali. Nabi Yesaya memakai gambar itu untuk keselamatan: "Hai langit, teteskanlah keadilan dari atas, dan baiklah awan mencurahkannya, baiklah bumi bertunaskan keselamatan." Keselamatan seperti hujan yang turun dari atas, bukan yang kita pompa dari bawah.
Tetapi hujan yang dinanti kadang terasa lama. Dalam Injil, Yohanes Pembaptis sedang di penjara. Orang yang dulu berseru penuh keyakinan di tepi Yordan kini mengirim pertanyaan yang getir: "Engkaukah yang akan datang itu, atau haruskah kami menantikan yang lain?"
Sungguh menghibur bahwa pertanyaan itu ada di dalam Kitab Suci. Bahkan Yohanes, sang perintis, pernah ragu. Iman ternyata bukan garis lurus tanpa gelombang. Ada saat langit terasa tertutup dan hujan tak kunjung turun.
Yesus tidak menegur keraguan itu. Ia hanya menunjuk pada tanda-tanda yang sudah turun: orang buta melihat, orang lumpuh berjalan, orang miskin mendengar kabar baik. Seakan berkata, lihatlah, hujan sudah mulai, meski dari dalam penjara suaranya belum terdengar.
Ketika iman kita kering dan bertanya-tanya, mungkin kita hanya perlu berhenti sejenak dan menghitung tetes yang sudah turun dalam hidup kita. Adakah kita masih ingat rahmat yang sudah kita terima?
Tuhan, di musim keringku, teteskanlah keadilan-Mu dari atas. Kuatkan aku menanti hujan-Mu tanpa berhenti percaya. Amin.