‹ Semua renungan

Minggu, 15 Desember 2030

Hanya Sebuah Suara

Hari Minggu ini punya nama sendiri: Gaudete. Kata Latin itu berarti bersukacitalah. Di tengah Adven yang ungu dan hening, lilin merah muda dinyalakan, dan Gereja seakan tidak sanggup menahan diri lagi. Sukacita bocor lebih awal, karena yang dinanti sudah dekat.

Tetapi Rasul Paulus menulis sesuatu yang sekilas mustahil. "Bersukacitalah senantiasa." Senantiasa? Bagaimana mungkin seseorang bersukacita terus-menerus, sementara hidup penuh tagihan, sakit, dan kabar buruk? Kalau sukacita bergantung pada keadaan, perintah itu kejam. Tetapi Paulus tidak sedang bicara tentang perasaan gembira yang datang dan pergi seperti cuaca. Ia bicara tentang sukacita yang berakar lebih dalam daripada keadaan, yakni pada kesetiaan Allah. "Ia yang memanggil kamu adalah setia," tutupnya. Di situlah akar yang tidak bisa dilayukan oleh musim.

Nabi Yesaya memberi sukacita itu wujud yang bisa dikenakan. Ia berkata, jiwaku bersorak, sebab Ia mengenakan kepadaku pakaian keselamatan dan menyelubungi aku dengan jubah kebenaran, seperti pengantin pada hari bahagianya. Sukacita orang beriman itu seperti baju pemberian, bukan hasil kerja sendiri.

Lalu datanglah Yohanes Pembaptis dalam Injil, dan ia mengajarkan satu bentuk sukacita yang jarang kita duga: sukacita menjadi kecil. Ketika orang bertanya siapa dirinya, ia menjawab dengan deretan penyangkalan. Aku bukan Mesias. Bukan Elia. Bukan nabi itu. Lalu apa? "Akulah suara orang yang berseru-seru di padang gurun."

Hanya sebuah suara. Bukan Firman, hanya suara yang menghantar Firman. Yohanes tahu persis di mana batas dirinya, dan ia bahagia berhenti di situ. Ia seperti penunjuk jalan di persimpangan. Tugas penunjuk jalan bukan menahan orang di depannya, melainkan mengarahkan mereka pergi ke tujuan. Papan yang baik tidak tersinggung saat orang berlalu meninggalkannya.

Barangkali inilah sukacita yang paling merdeka. Sukacita orang yang tidak perlu menjadi pusat. Yang rela menjadi jari telunjuk yang menunjuk ke luar dirinya, ke arah Kristus. Kita hidup di zaman yang mengajari semua orang tampil dan menonjol. Yohanes menunjukkan jalan lain: berkurang supaya Ia bertambah, dan justru di sanalah sukacita ditemukan.

Dan anehnya, orang yang berhenti berebut menjadi pusat justru menjadi paling bebas. Ia tidak lagi lelah menjaga citra, tidak cemas kalah menonjol dari orang lain. Ia cukup menunjuk ke arah yang benar, lalu bergembira melihat orang berjalan menuju ke sana.

Adakah kita rela menjadi sekadar suara yang menghantar orang lain kepada Tuhan, lalu berbahagia melihat mereka sampai?

Tuhan, jadikan aku suara yang menghantar orang kepada-Mu, dan ajarilah aku bersukacita bukan karena diriku menonjol, melainkan karena Engkau dikenal. Amin.

Buka Doa Hari Ini lengkap →