Kamis, 12 Desember 2030
Tangan yang Digenggam
Ada pemandangan biasa di pinggir jalan raya pagi hari. Seorang anak kecil menyeberang digandeng tangannya oleh orang dewasa. Anak itu tidak menghitung laju kendaraan. Ia hanya merasakan satu hal: ada tangan yang menggenggam tangannya. Dan itu cukup untuk membuatnya berani melangkah.
Nabi Yesaya menaruh Tuhan dalam peran itu. "Aku ini, Tuhan, Allahmu, memegang tangan kananmu dan berkata kepadamu: Janganlah takut, Akulah yang menolong engkau." Bukan gambar Tuhan yang jauh di atas awan, melainkan Tuhan yang membungkuk, menggenggam tangan, dan menuntun.
Yang lebih mengharukan, kepada siapa kata-kata itu ditujukan. Bukan kepada pahlawan. "Janganlah takut, hai si cacing Yakub, hai si ulat Israel." Cacing dan ulat. Sebutan untuk yang paling kecil, paling lemah, paling mudah diinjak. Justru kepada yang serapuh itu Tuhan mengulurkan tangan dan berjanji mengubahnya menjadi kuat.
Kita sering menunggu merasa kuat dulu baru berani melangkah bersama Tuhan. Yesaya membalik itu. Kekuatan bukan syarat, melainkan pemberian. Yang diminta hanya satu: menyerahkan tangan untuk digenggam. Bukankah begitu juga anak kecil di pinggir jalan tadi? Ia berani menyeberang bukan karena merasa kuat, melainkan karena tahu ada tangan yang lebih kuat memegangnya. Maukah kita?
Tuhan, aku kecil dan sering takut. Genggamlah tangan kananku, dan tuntunlah aku menyeberang hari ini tanpa takut. Amin.