Minggu, 8 Desember 2030
Meratakan Jalan
Menjelang hari besar, jalan-jalan diperbaiki. Lubang ditambal, aspal diratakan, rumput di pinggir dipangkas. Ada tamu penting yang akan lewat, maka jalannya disiapkan lebih dulu. Kita mengerti logika itu tanpa perlu dijelaskan.
Nabi Yesaya memakai gambar yang sama, tetapi dibalik arahnya. Ada suara berseru di padang gurun: persiapkanlah jalan untuk Tuhan. Setiap lembah ditutup, setiap gunung dan bukit diratakan, tanah yang berlekuk menjadi dataran. Bukan supaya kita naik menuju Tuhan. Melainkan supaya Tuhan bisa turun sampai kepada kita.
Empat abad kemudian, seorang laki-laki berjubah bulu unta muncul di padang gurun dan mengambil alih seruan itu. Yohanes Pembaptis. Ia tidak menyuruh orang menambal jalan raya, melainkan meratakan sesuatu yang lebih keras: hati. Bertobatlah, katanya. Kata tobat dalam bahasa aslinya berarti berbalik, mengubah arah pikiran. Meratakan jalan batin berarti menurunkan bukit kesombongan kita, dan menimbun lembah keputusasaan kita, supaya ada jalan lurus tempat Tuhan lewat.
Tetapi mungkin kita bertanya, kalau jalan sudah kita siapkan, mengapa Ia belum juga datang? Di sinilah surat Petrus menghibur. Di hadapan Tuhan, katanya, satu hari seperti seribu tahun dan seribu tahun seperti satu hari. Yang kita sebut keterlambatan sebenarnya kesabaran. Ia menunda bukan karena lupa, melainkan karena tidak ingin seorang pun binasa. Ia memberi waktu supaya semua sempat berbalik.
Betapa berbeda cara Tuhan menghitung waktu dengan cara kita. Kita mengukur dengan jam yang tak sabaran. Ia mengukur dengan hati yang penuh belas kasihan. Setiap hari yang tampak seperti penundaan sesungguhnya adalah pintu yang dibiarkan-Nya terbuka sedikit lebih lama.
Dan tujuan dari semua persiapan itu bukan sebuah aturan, melainkan seorang Gembala. Yesaya menutup dengan lembut: seperti gembala Ia menggembalakan kawanan-Nya, anak domba dipangku-Nya, induk domba dituntun-Nya dengan hati-hati. Jalan yang kita ratakan ini bukan untuk kedatangan seorang hakim yang garang, melainkan seorang gembala yang menggendong.
Ada kelegaan tersembunyi dalam kabar itu. Sering kita cemas karena merasa Tuhan terlambat menjawab doa kita. Padahal boleh jadi Ia sedang memberi waktu, bukan kepada kita saja, melainkan juga kepada orang yang masih jauh dan belum sempat pulang. Kesabaran-Nya adalah pintu yang Ia tahan supaya tetap terbuka sedikit lebih lama.
Maka Adven pekan kedua bertanya kepada kita dengan jujur: bukit mana dalam diriku yang perlu diturunkan, dan lembah mana yang perlu ditimbun, supaya Ia lebih mudah sampai?
Tuhan, ratakanlah jalan di dalam hatiku. Turunkan kesombonganku, timbunlah keputusasaanku, dan datanglah sebagai Gembala yang memangku aku. Amin.