Minggu, 1 Desember 2030
Tugas Penunggu Pintu
Di kampung, tugas jaga malam sering jatuh bergilir. Bukan pekerjaan berat. Tidak ada yang diangkat, tidak ada yang dipikul. Tetapi justru itu yang membuatnya susah. Sepanjang malam biasanya tidak terjadi apa-apa. Anjing menggonggong, lalu diam. Angin lewat. Dan mata mulai berat. Bagaimana caranya tetap terjaga untuk sesuatu yang belum tentu datang?
Injil hari ini menaruh kita persis di pos ronda itu. Seorang tuan pergi jauh. Ia menyerahkan rumah kepada hamba-hambanya, masing-masing dengan tugasnya, dan kepada penunggu pintu ia berpesan satu hal: berjaga-jagalah. Empat kali kata itu diulang dalam bacaan yang pendek. Menjelang malam, tengah malam, larut malam, pagi buta. Seakan Yesus tahu, godaan terbesar bukan lari dari tugas, melainkan tertidur di dalam tugas.
Kita membuka Masa Adven hari ini. Kata Adven datang dari bahasa Latin adventus, yang berarti kedatangan. Maka empat pekan ini bukan latihan menahan rindu pada masa lalu, pada palungan yang sudah lewat dua ribu tahun. Ini latihan menanti yang akan datang. Menanti seseorang, bukan sesuatu.
Nabi Yesaya menaruh kerinduan itu dengan berani. Ia hampir memaksa: kembalilah, ya Tuhan. Ia mengaku bahwa segala kesalehan mereka hanya seperti kain kotor, bahwa mereka layu seperti daun ditiup angin. Tetapi di tengah pengakuan yang jujur itu ada satu pegangan: Engkau Bapa kami. Yang menanti tidak sedang menunggu hakim. Ia menunggu Bapa.
Dan orang beriman tidak pernah menanti dengan tangan kosong. Paulus menulis kepada jemaat di Korintus bahwa sambil menantikan penyataan Tuhan, mereka tidak kekurangan satu karunia pun. Penantian Kristen selalu berisi. Ada tugas di tangan, ada sesama yang dititipkan, ada rumah yang harus dijaga tetap terang. Berjaga bukan berarti tegang menatap langit. Berjaga berarti setia mengerjakan bagian kita sampai Ia pulang.
Maka berjaga di masa Adven bukan soal menatap kalender dan menghitung hari sampai Natal. Ia soal sikap hati yang tidak lengah. Seperti seorang ibu yang tidur ayam menjelang anaknya pulang larut, telinganya tetap terbuka pada bunyi pintu gerbang. Tubuhnya berbaring, tetapi hatinya berjaga. Begitulah orang beriman menanti Tuhannya, dengan pelita yang sengaja tidak dipadamkan.
Malam memang panjang. Tetapi penunggu pintu yang baik tahu satu rahasia: pagi tidak pernah gagal datang.
Tuhan, ajarilah aku menanti-Mu tanpa tertidur. Jagailah pelitaku tetap menyala sampai Engkau mengetuk pintu. Amin.