Senin, 2 Desember 2030
Cukup Sepatah Kata
Ada kalimat dalam Injil hari ini yang mungkin terdengar setiap Minggu di telinga kita, sedikit diubah, sebelum kita menyambut komuni. "Tuan, aku tidak layak menerima Tuan di dalam rumahku, katakan saja sepatah kata, maka hambaku akan sembuh." Yang mengucapkannya seorang perwira. Seorang yang biasa memerintah.
Ia mengerti soal kuasa dari pekerjaannya sehari-hari. Ada atasan di atasnya, ada prajurit di bawahnya. Ia berkata pergi, maka orang pergi. Ia berkata datang, maka orang datang. Justru karena paham betul cara kerja perintah, ia tahu Yesus tidak perlu repot berjalan ke rumahnya. Cukup sepatah kata. Sabda-Nya sendiri sudah punya kaki, sudah bisa berangkat sendiri.
Yang membuat Yesus heran bukan pangkat orang ini, melainkan imannya. Iman sebesar itu, kata-Nya, tidak Ia jumpai di antara orang Israel. Aneh, bukan? Orang yang paling terbiasa memerintah justru yang paling rela tidak mengatur Tuhan. Ia tidak mendikte bagaimana mukjizat harus terjadi. Ia hanya percaya pada satu kata.
Kita sering sebaliknya. Kita berdoa sambil menyodorkan rencana lengkap, cara, dan jadwal. Adakah kita masih bisa berkata, cukup sepatah kata dari-Mu, Tuhan, dan aku percaya?
Tuhan, aku tidak layak, tetapi aku percaya. Ucapkanlah sabda-Mu atas hidupku, dan biarlah itu cukup bagiku. Amin.