Sabtu, 30 November 2030
Segera
Nanti dulu. Barangkali itulah kata yang paling sering kita ucapkan. Orang Jawa punya versinya yang halus: mengko dhisik. Ditunda sebentar, lalu sebentar lagi, lalu lupa sama sekali.
Injil pesta Santo Andreas hari ini memakai kata yang berlawanan arah: segera. Yesus berjalan menyusur danau Galilea, melihat Simon dan Andreas sedang menebarkan jala, lalu memanggil mereka: mari, ikutlah Aku, dan kamu akan Kujadikan penjala manusia. Dan mereka segera meninggalkan jalanya. Tidak ada rapat keluarga, tidak ada permintaan waktu berpikir seminggu. Jala, sumber penghasilan satu-satunya, ditinggalkan begitu saja di tepi air.
Kesegeraan itu terbawa sampai akhir hidupnya. Menurut tradisi, Andreas mewartakan Injil hingga ke tanah Yunani dan mati terikat pada salib berbentuk huruf X, tetap sebagai orang yang tidak menunda panggilan. Paulus dalam bacaan pertama seakan memujinya: betapa indahnya kedatangan mereka yang membawa kabar baik. Iman kita hari ini adalah buah dari kaki-kaki yang dulu bergegas.
Panggilan Tuhan jarang datang dua kali dengan cara yang sama. Yang ditunda sering kali bukan tertunda, melainkan hilang. Maka periksalah hari ini: undangan apa dari Tuhan yang sedang kutahan dengan kata nanti? Berdamai, melayani, berdoa, pulang?
Tuhan, cabutlah kata nanti dari hatiku setiap kali Engkau memanggil, dan ajarilah aku menjawab seperti Andreas: segera. Amin.