Selasa, 26 November 2030
Sabit dan Batu
Menjelang panen, sawah menguning dan sabit mulai diasah. Padi yang sudah masak tidak bisa menunggu; ditunda seminggu saja, ia rebah dan membusuk di batangnya. Setiap petani tahu: kematangan punya batas waktu.
Kitab Wahyu memakai gambar panen itu untuk akhir zaman. Malaikat berseru kepada Dia yang duduk di atas awan: ayunkanlah sabit-Mu dan tuailah, sebab tuaian di bumi sudah masak. Sejarah bukan lingkaran yang berputar tanpa ujung. Ia ladang yang sedang berjalan menuju musim tuai, dan pemiliknya tidak lupa waktu.
Sementara itu di Yerusalem, orang-orang sibuk mengagumi Bait Allah: batunya indah, barang persembahannya megah. Yesus menjawab dengan kalimat yang mendinginkan: tidak ada satu batu pun akan dibiarkan terletak di atas batu yang lain; semuanya akan diruntuhkan. Kemarin mata Yesus memandang dua peser seorang janda; hari ini para murid silau oleh kemegahan gedung. Arah pandang yang harus terus dibalik: yang megah bisa runtuh, yang matang pasti dituai.
Yesus juga berpesan supaya kita tidak panik oleh kabar perang dan bencana, dan tidak ikut-ikutan para penebak tanggal. Yang penting bukan kapan waktunya, melainkan apa yang sedang kutanam hari ini. Kalau ladang hidupku dituai sore nanti, buah apa yang siap dipersembahkan?
Tuhan, jauhkanlah aku dari silau kemegahan yang fana, dan matangkanlah dalam diriku buah yang Kaunantikan. Amin.