‹ Semua renungan

Minggu, 17 November 2030

Membaca Langit

Petani tua tidak memerlukan ramalan cuaca. Ia mencium bau tanah, melirik arah angin, menatap gumpalan awan di punggung gunung, lalu berkata pendek: sore ini hujan. Sering kali benar. Ia tidak tahu pukul berapa persisnya. Ia hanya membaca tanda.

Yesus mengajak murid-murid-Nya belajar hal yang sama dari pohon ara: apabila rantingnya melembut dan bertunas, kamu tahu musim panas sudah dekat. Begitu pula tanda-tanda zaman. Injil hari ini memang penuh gambaran yang mengguncang: matahari menjadi gelap, bintang berjatuhan, kuasa-kuasa langit goncang. Gambaran akhir yang membuat banyak orang gentar, dan membuat sebagian lainnya sibuk berhitung.

Tetapi ada satu kalimat yang jarang kita hargai sepenuhnya: tentang hari atau saat itu tidak seorang pun yang tahu, malaikat-malaikat di surga tidak, dan Anak pun tidak, hanya Bapa saja. Yesus sendiri menolak membuka tanggal. Maka setiap orang yang sibuk menghitung hari kiamat sesungguhnya sedang mengaku tahu lebih banyak daripada Anak Allah. Berhati-hatilah pada ramalan semacam itu.

Yang diminta dari kita bukan menghitung, melainkan membaca dan bersiap. Kitab Daniel menunjukkan rupa kesiapan itu: pada waktu kesesakan besar, orang-orang bijaksana akan bercahaya seperti cahaya cakrawala, dan yang menuntun banyak orang kepada kebenaran akan bersinar seperti bintang-bintang untuk selama-lamanya. Kebijaksanaan di akhir zaman bukan kepandaian meramal. Ia kesetiaan menuntun sesama kepada yang benar, hari demi hari.

Minggu lalu surat Ibrani berbicara tentang Kristus yang mempersembahkan diri satu kali untuk selama-lamanya. Hari ini surat yang sama melanjutkan: oleh satu kurban itu Ia telah menyempurnakan mereka yang dikuduskan-Nya. Inilah alasan orang beriman menatap akhir zaman tanpa panik: kurban yang menyelamatkan kita sudah selesai dikerjakan. Kita tidak menunggu hakim asing, melainkan menantikan Dia yang sudah menyerahkan nyawa bagi kita. Langit dan bumi akan berlalu; perkataan-Nya tidak akan berlalu.

Maka pekan ini cobalah latihan sederhana para petani itu. Kalau tanda-tanda musim bisa dibaca dari tunas dan angin, bisakah aku membaca tanda kehadiran Allah dalam peristiwa hidupku? Dalam teguran yang datang, dalam pintu yang tertutup, dalam pertolongan yang tak disangka?

Tuhan, ajarilah aku membaca tanda-tanda-Mu dengan tenang, hidup bijaksana di masa yang gelisah, dan menuntun orang lain kepada terang-Mu. Amin.

Buka Doa Hari Ini lengkap →