Sabtu, 16 November 2030
Tak Jemu-jemu
Anak kecil yang menginginkan sepeda punya senjata paling ampuh: bertanya setiap hari. Pagi ditanya, sore ditanya, besok pagi ditanya lagi. Tidak marah, tidak mogok makan, hanya terus datang dengan mata penuh harap. Orang tua mana yang tahan lama-lama?
Yesus memakai gambar serupa: seorang janda terus-menerus mendatangi hakim yang lalim. Hakim itu tidak takut kepada Allah dan tidak menghormati siapa pun. Toh akhirnya ia menyerah, bukan karena insaf, melainkan karena capek: janda ini menyusahkan aku. Lalu Yesus menarik garisnya: kalau hakim jahat saja akhirnya bertindak, apalagi Allah, yang mengasihi orang-orang pilihan-Nya. Ia tidak mengulur-ulur waktu.
Perumpamaan ini bukan mengajarkan bahwa Allah harus dirayu sampai bosan. Justru sebaliknya. Kegigihan doa tidak mengubah Allah; kegigihan doa mengubah kita: menjaga hati tetap menghadap ke arah yang benar, seperti bunga yang terus mengikuti matahari.
Kalimat penutup Yesus menusuk pelan: jika Anak Manusia datang, adakah Ia mendapati iman di bumi? Iman yang dimaksud rupanya sesederhana ini: masih berdoa, masih berharap, masih datang, meski jawaban belum kelihatan.
Doa apa yang dulu kupanjatkan setiap hari, lalu kuhentikan karena bosan menunggu? Mungkin hari ini saatnya datang lagi.
Tuhan, aku datang lagi hari ini, dengan permohonan yang sama dan hati yang sama. Jagalah imanku supaya tidak jemu-jemu. Amin.