Senin, 18 November 2030
Kasih yang Semula
Di lemari banyak keluarga tersimpan album pernikahan. Kadang ia terbuka lagi setelah bertahun-tahun, dan dua orang yang kini sibuk saling mendiamkan menemukan foto mereka dulu saling menatap penuh binar. Rumah tangganya masih berjalan, semua kewajiban ditunaikan. Yang hilang cuma satu: rasa jatuh cinta itu.
Kepada jemaat Efesus, Tuhan berbicara seperti itu. Aku tahu segala pekerjaanmu: jerih payahmu, ketekunanmu, kesabaranmu menderita karena nama-Ku. Rapornya nyaris sempurna. Namun demikian Aku mencela engkau: engkau telah meninggalkan kasihmu yang semula. Masih rajin, tidak lagi mencinta. Roda masih berputar, api sudah padam.
Obatnya diberikan dalam tiga kata kerja: ingatlah betapa dalamnya engkau telah jatuh, bertobatlah, dan lakukanlah lagi apa yang semula engkau lakukan. Menarik: kasih yang dingin tidak dipulihkan dengan menunggu perasaan kembali, melainkan dengan mengerjakan kembali perbuatan-perbuatan pertama. Perasaan menyusul perbuatan.
Pengemis buta di dekat Yerikho memperlihatkan kasih semula itu masih mungkin. Begitu matanya melek, ia tidak pulang ke rumah; ia mengikuti Yesus sambil memuliakan Allah, dan seluruh rakyat ikut memuji. Iman yang baru melihat selalu bernyala-nyala.
Maka periksalah hari ini: apa perbuatan kasih pertamaku dulu, kepada Tuhan dan kepada orang serumah, yang sudah lama tidak kulakukan? Mulailah lagi dari situ.
Tuhan, nyalakanlah kembali kasihku yang semula, dan biarkan aku memandang-Mu seperti pada kali pertama. Amin.