Jumat, 8 November 2030
Cerdik untuk Terang
Lihatlah pedagang asongan di perempatan lampu merah. Ia hafal jam-jam macet, hafal wajah langganan, gesit membaca peluang di sela hitungan detik. Untuk sesuap nasi, orang bisa luar biasa cerdik.
Yesus hari ini memuji bendahara yang tidak jujur. Yang dipuji tentu bukan curangnya, melainkan sigapnya: begitu tahu akan dipecat, ia langsung bergerak mengamankan masa depannya. Lalu Yesus menutup dengan sindiran halus: anak-anak dunia ini lebih cerdik terhadap sesamanya daripada anak-anak terang. Untuk perkara duniawi kita lincah bukan main; untuk perkara kekal kita sering loyo, lamban, kehabisan akal.
Santo Leo Agung, paus yang dikenang hari ini, memakai kecerdikannya justru untuk terang. Ketika pasukan Attila mendekati Roma, ia tidak punya tentara. Ia keluar menemui sang penakluk hanya dengan wibawa, kata-kata, dan iman. Kota itu selamat. Kecerdasan yang sama, arah yang berbeda.
Paulus mengingatkan jemaat Filipi: kewargaan kita ada di dalam surga. Tetapi warga surga tidak dipanggil untuk bodoh di bumi. Pikiran yang tajam, pergaulan yang luas, kreativitas yang mengalir: semuanya modal yang bisa dijalankan bagi Kerajaan Allah.
Hari ini jujurlah sejenak: seberapa kreatif aku mengusahakan perkara Tuhan, dibandingkan kegigihanku mengejar cicilan dan target bulanan?
Tuhan, asahlah akal budiku, dan arahkanlah seluruh kecerdikanku bagi terang-Mu, bukan bagi kepentinganku sendiri. Amin.