Kamis, 7 November 2030
Air dari Ambang Pintu
Di kampung-kampung, mata air kecil sering tampak sepele. Rembesannya hanya membasahi batu, alirannya bisa ditutup dengan telapak kaki. Tetapi ikutilah alirannya menuruni lereng: makin jauh makin lebar, menghidupi sawah, kolam ikan, dan dapur orang-orang di bawahnya.
Yehezkiel melihat penglihatan serupa. Ada air keluar dari bawah ambang pintu Bait Suci. Mula-mula kecil saja. Lalu menjadi sungai, mengalir ke Araba, dan bermuara di Laut Asin. Laut yang mati itu menjadi tawar. Ke mana saja air itu mengalir, semuanya hidup: ikan berkeriapan, pohon berbuah tiap bulan, daunnya menjadi obat.
Hari ini Gereja mengenang pemberkatan Basilika Lateran, gereja katedral Bapa Suci di Roma. Kata basilika berasal dari bahasa Yunani, basilike, artinya balai raja. Namun penglihatan Yehezkiel mengingatkan kita: kebesaran rumah Raja bukan terletak pada pilar dan pualamnya, melainkan pada air yang mengalir keluar dari pintunya.
Injil menegaskan hal yang sama dari arah lain. Yesus mengusir para pedagang, sebab rumah Bapa bukan tempat berjualan. Rumah Allah bukan tempat menimbun, melainkan tempat mengalirkan.
Maka ukuran sebuah gereja bukan megah gedungnya, melainkan hidup yang mengalir darinya. Pertanyaan yang sama berlaku untuk gereja kecil bernama keluarga: dari ambang pintu rumahku, apa yang mengalir keluar ke tetangga? Air yang menghidupkan, atau tidak ada apa-apa?
Tuhan, jadikanlah hatiku ambang pintu bagi air-Mu, agar dari hidupku mengalir sesuatu yang menghidupkan sesamaku. Amin.