‹ Semua renungan

Selasa, 22 Oktober 2030

Jembatan, Bukan Tembok

Ada dua cara menghadapi orang yang berbeda dari kita: membangun tembok atau membangun jembatan. Tembok membuat kita merasa aman dengan menyingkirkan yang lain. Jembatan lebih berani, sebab ia mengundang perjumpaan. Menariknya, gelar tertua bagi Paus adalah pontifex, yang secara harfiah berarti pembangun jembatan.

Hari ini kita mengenang Santo Yohanes Paulus II, paus yang seakan menjelmakan arti kata itu. Ia melintasi begitu banyak batas: Timur dan Barat, tua dan muda. Seruannya yang termasyhur, "Jangan takut!", adalah ajakan merobohkan tembok ketakutan yang membuat kita saling curiga.

Surat kepada jemaat Efesus menaruh dasar teologisnya. Kristus, kata Paulus, "telah merubuhkan tembok pemisah, yaitu perseteruan." Mereka yang dahulu jauh telah dibuat dekat oleh darah-Nya. Salib itu sendiri sebuah jembatan: kayu yang menghubungkan kembali manusia dengan Allah dan manusia dengan sesamanya.

Dan hasilnya bukan sekadar gencatan senjata, melainkan sebuah bangunan baru: kita menjadi "kawan sewarga dari orang-orang kudus", batu-batu hidup yang disusun menjadi bait Allah, dengan Kristus sebagai batu penjuru.

Injil hari ini melengkapi dengan sikap yang dituntut: pinggang berikat, pelita menyala, siap sedia menanti Tuan. Orang yang sibuk membangun tembok tidak akan sempat berjaga; orang yang menanti Tuhan akan menyambut setiap orang sebagai tamu yang mungkin membawa wajah-Nya.

Hari ini, terhadap orang yang berbeda dariku, aku sedang menyusun tembok atau merentang jembatan?

Tuhan, robohkan tembok permusuhan dalam hatiku. Jadikan aku pembangun jembatan seperti Santo Yohanes Paulus II, yang tak takut mendekati sesama. Amin.

Buka Doa Hari Ini lengkap →