Minggu, 20 Oktober 2030
Minta Kursi, Ditawari Cawan
Ada satu adegan yang sangat manusiawi dalam Injil hari ini. Yakobus dan Yohanes mendekati Yesus dengan permintaan yang malu-malu tetapi ambisius: "Perkenankanlah kami duduk dalam kemuliaan-Mu kelak, yang seorang di sebelah kanan-Mu dan yang seorang di sebelah kiri-Mu." Mereka sedang membayangkan kursi. Yesus menjawab dengan menawarkan sesuatu yang lain sama sekali: sebuah cawan.
"Dapatkah kamu meminum cawan yang harus Kuminum?" Cawan dalam Kitab Suci sering berarti penderitaan. Kedua murid itu meminta kehormatan; Yesus berbicara tentang salib. Mereka membayangkan singgasana; Ia menunjuk jalan pengurbanan. Rupanya di sekolah Yesus, tempat duduk paling tinggi justru diraih dengan turun paling rendah.
Kesepuluh murid lain marah mendengar permintaan itu. Bukan karena mereka lebih rendah hati, melainkan barangkali karena mereka pun mengincar kursi yang sama. Maka Yesus mengumpulkan mereka semua dan membalikkan cara dunia berpikir tentang kekuasaan: "Mereka yang disebut pemerintah bangsa-bangsa memerintah rakyatnya dengan tangan besi. Tidaklah demikian di antara kamu. Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu."
Dunia menyusun tangga: siapa di atas dilayani, siapa di bawah melayani. Yesus membalik tangga itu. Yang terbesar adalah yang paling banyak melayani. Dan Ia bukan sekadar berkhotbah tentang hal itu; Ia menghidupinya sampai habis: "Anak Manusia juga datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang."
Nabi Yesaya sudah melukiskannya jauh hari: seorang hamba yang memikul kejahatan banyak orang, yang diremukkan tetapi justru olehnya banyak orang dibenarkan. Dan surat Ibrani menambahkan penghiburan besar: Imam Besar kita bukan penguasa yang jauh dan dingin, melainkan Dia yang "turut merasakan kelemahan-kelemahan kita", yang sudah dicobai sama seperti kita. Ia melayani dari dalam, bukan dari menara. Justru karena Imam Besar kita pernah meminum cawan itu sampai habis, kita berani menghampiri takhta kasih karunia-Nya tanpa takut.
Godaan mengincar kursi tidak pernah hilang, juga dalam keluarga, pekerjaan, bahkan pelayanan Gereja. Anehnya, semakin rohani sebuah lingkungan, kadang semakin halus pula rebutan kursinya, dibungkus bahasa pengabdian. Kita ingin diakui, ingin duduk sedikit lebih tinggi dari yang lain. Yesus tidak melarang kita menjadi besar. Ia hanya mengubah jalannya: turun, melayani, memberi diri.
Hari ini, di lingkaran kecilku, aku sedang mencari kursi atau memegang cawan?
Tuhan Yesus, Engkau datang untuk melayani dan memberikan nyawa-Mu. Sembuhkanlah aku dari kehausan akan kursi, dan ajarilah aku menemukan kebesaran dalam melayani. Amin.