Jumat, 18 Oktober 2030
Resep dari Tabib
Kalau badan sakit, kita mencari tabib. Ada yang meracik ramuan, ada yang menyuntik, ada yang cukup menepuk pundak dan berkata: tidak apa-apa, ini bisa sembuh. Kadang kalimat terakhir itu justru yang paling menyembuhkan.
Hari ini Gereja merayakan Santo Lukas. Ia seorang tabib, dan Paulus menyapanya dengan hangat sebagai tabib yang kekasih. Tetapi warisan terbesar Lukas bukan ramuan obat, melainkan sebuah Injil dan Kisah Para Rasul. Ia menuliskan kabar tentang Tabib yang lain, yang menyembuhkan luka yang tak terjangkau ramuan mana pun.
Menariknya, dalam Injil Lukaslah kita menemukan kisah-kisah belas kasih yang paling menyentuh: orang Samaria yang baik hati, anak yang hilang yang dipeluk kembali, penyamun yang bertobat di kayu salib. Seorang tabib rupanya paling peka pada yang terluka, dan ia melukiskan Yesus persis sebagai penyembuh yang tak pernah menolak pasien.
Ketika hampir semua meninggalkan Paulus di penjara, hanya Lukas yang tinggal. Ia tidak hanya menulis tentang kesetiaan; ia sendiri setia, tinggal di sisi sahabat yang ditinggalkan orang lain.
Dan Injil hari ini adalah pengutusan tujuh puluh murid untuk "menyembuhkan orang-orang sakit dan mengatakan: Kerajaan Allah sudah dekat." Setiap murid, dengan caranya, diutus menjadi tabib kecil yang membawa kesembuhan dan kabar baik.
Hari ini, kepada siapa aku bisa membawa satu kalimat yang menyembuhkan, bukan yang melukai?
Tuhan, seperti Santo Lukas, jadikan aku pembawa kabar baik dan tangan yang meringankan luka sesama. Sembuhkanlah dahulu hatiku sendiri. Amin.