Rabu, 16 Oktober 2030
Bawakan Jubahku
Ada surat-surat terakhir yang isinya justru hal-hal kecil. Bukan wasiat besar, bukan petuah agung, melainkan titipan sederhana: bawakan jaketku, jangan lupa buku yang tertinggal. Justru dari hal kecil itu terasa betapa manusiawinya orang yang menulis.
Surat Paulus kepada Timotius hari ini bernada demikian. Paulus sudah tua, dipenjara, dan ditinggalkan. "Demas telah mencintai dunia ini dan meninggalkan aku." Satu per satu pergi. Lalu kalimat yang sepi itu: "Hanya Lukas yang tinggal dengan aku." Dan di tengah kesepian, ia menitip permintaan yang sangat membumi: bawalah jubah yang kutinggalkan di Troas, dan juga kitab-kitabku, terutama perkamen itu.
Seorang rasul besar, di ujung hidupnya, meminta sehelai jubah untuk menahan dingin dan beberapa gulungan untuk dibaca. Iman rupanya tidak melayang di awan. Ia tetap butuh kehangatan, tetap butuh bacaan, tetap merasakan sakitnya ditinggalkan.
Tetapi dengarkan lanjutannya: "tetapi Tuhan telah mendampingi aku dan menguatkan aku." Ketika semua sahabat menjauh, satu yang tidak pergi. Paulus tidak sendirian sekalipun ruangannya sepi.
Barangkali itu penghiburan bagi kita yang pernah ditinggalkan orang yang kita andalkan. Manusia bisa pergi seperti Demas. Tetapi ada Satu yang tetap tinggal, mendampingi sampai kita lepas dari mulut singa.
Hari ini, ketika merasa ditinggalkan, apakah aku masih ingat siapa yang tidak pernah beranjak?
Tuhan, ketika satu per satu menjauh, dampingilah aku seperti Engkau mendampingi Paulus. Cukuplah Engkau yang tinggal. Amin.