Senin, 14 Oktober 2030
Kuk yang Ditinggalkan
Petani yang biasa membajak dengan sapi tahu bentuk kuk: kayu melintang yang dipasang di tengkuk hewan supaya bisa dikendalikan dan disuruh menarik beban. Kuk membuat leher tunduk dan langkah diatur orang lain. Selama kuk terpasang, sapi bukan lagi milik dirinya.
Paulus memakai gambaran itu untuk kebebasan rohani. "Supaya kita sungguh-sungguh merdeka, Kristus telah memerdekakan kita. Karena itu berdirilah teguh dan jangan mau lagi dikenakan kuk perhambaan." Orang Galatia sudah dibebaskan, tetapi diam-diam ingin memasang kembali kuk aturan lama di leher mereka sendiri, seolah kasih karunia belum cukup.
Anehnya, manusia memang kerap rindu pada kuknya. Ada rasa aman yang palsu dalam belenggu yang sudah dikenal. Kita bisa dibebaskan dari dendam, tetapi memilih memeluknya kembali. Dibebaskan dari rasa bersalah, tetapi terus menyeretnya ke mana-mana. Merdeka itu ternyata menuntut keberanian.
Injil hari ini menyinggung penyakit sejenis. Orang banyak menuntut tanda, terus meminta bukti, padahal Yang lebih besar dari Yunus dan Salomo sudah berdiri di depan mata mereka. Mereka merantai diri pada tuntutan bukti dan tak pernah percaya.
Kristus tidak membebaskan kita untuk kita belenggu lagi diri sendiri. Ia memerdekakan supaya kita berdiri tegak.
Hari ini, kuk lama manakah yang diam-diam ingin kupasang kembali di leherku sendiri?
Tuhan, Engkau telah memerdekakan aku. Beri aku keberanian untuk berdiri tegak dan tidak kembali pada belenggu yang dulu Kaulepaskan. Amin.