Minggu, 13 Oktober 2030
Dipandang dengan Kasih
Ada satu detail kecil dalam Injil hari ini yang mudah terlewat. Sebelum Yesus mengucapkan kalimat berat "juallah apa yang kaumiliki", Markus menulis: "Tetapi Yesus memandang dia dan menaruh kasih kepadanya." Perintah keras itu keluar dari pandangan yang penuh kasih, bukan dari kejengkelan.
Orang itu bukan orang jahat. Ia berlari mendatangi Yesus, bertelut, bertanya sungguh-sungguh soal hidup kekal. Segala perintah sudah ia turuti sejak muda. Ia nyaris sempurna. Hanya satu yang kurang, dan justru yang satu itu paling sukar: hartanya.
Yesus tidak membenci kekayaannya. Ia melihat bahwa harta itu telah menjadi jangkar yang menahan orang ini di tempat, membuatnya tak bisa melangkah mengikut. Maka tawaran-Nya sebenarnya sebuah pembebasan: lepaskan yang memberatimu, dan engkau akan bebas berjalan. Sayang, "ia menjadi kecewa, lalu pergi dengan sedih, sebab banyak hartanya." Ia datang berlari, ia pulang tertunduk. Yang mengikat ternyata bukan ia yang memiliki harta, melainkan harta yang memiliki dia.
Dari sinilah keluar kalimat termasyhur itu: lebih mudah unta melewati lubang jarum daripada orang kaya masuk Kerajaan Allah. Murid-murid gempar. "Jika demikian, siapakah yang dapat diselamatkan?" Jawab Yesus membuka pintu yang tadi tampak tertutup rapat: "Bagi manusia hal itu tidak mungkin, tetapi bukan demikian bagi Allah."
Kitab Kebijaksanaan sudah lebih dulu tahu rahasianya. Salomo memilih hikmat di atas tahta, emas, dan permata, dan justru bersama hikmat itu datang pula segala yang lain. Ketika kita mengutamakan yang benar-benar berharga, yang lain menemukan tempatnya yang pantas. Bukan harta yang salah, melainkan urutannya. Begitu harta naik menjadi tuan, ia mulai memerintah; begitu ia turun menjadi alat, ia bisa dibagikan.
Dan surat Ibrani mengingatkan mengapa sabda Yesus terasa menusuk: firman Allah "lebih tajam dari pada pedang bermata dua", sanggup memisahkan mana yang kita cintai sekadar alat dan mana yang kita jadikan tuan. Firman itu tidak melukai untuk membinasakan, melainkan membedah untuk menyembuhkan.
Pertanyaan Yesus kepada orang kaya itu sebenarnya pertanyaan kepada kita masing-masing. Bukan apakah engkau punya harta, melainkan apa satu hal yang kaupegang erat sampai tak bisa melangkah. Bisa harta, bisa jabatan, bisa gengsi, bisa rasa aman.
Hari ini, seandainya Yesus memandangku dengan kasih lalu menunjuk satu hal, kira-kira hal apa yang akan Ia sebut?
Tuhan, pandanglah aku dengan kasih-Mu, dan tunjukkanlah satu hal yang menahan langkahku. Berilah aku keberanian melepaskannya, agar aku bebas mengikut Engkau. Amin.