Jumat, 11 Oktober 2030
Rumah yang Terbagi
Sebuah rumah tangga bisa punya rumah bagus, isi lengkap, halaman rapi, tetapi kalau penghuninya saling bermusuhan di dalam, rumah itu sesungguhnya sudah runtuh. Yang meruntuhkan bukan gempa dari luar, melainkan perpecahan dari dalam.
Yesus menyebut hukum itu ketika dituduh mengusir setan dengan kuasa Beelzebul. Jawab-Nya masuk akal sekali: "Setiap kerajaan yang terpecah-pecah pasti binasa, dan setiap rumah tangga yang terpecah-pecah, pasti runtuh." Kalau Iblis mengusir Iblis, kerajaannya sendiri yang bubar. Kejahatan pun tahu perlunya kekompakan; celakanya, kebaikan sering lupa.
Betapa banyak keluarga, paguyuban, bahkan jemaat yang sebenarnya tidak dikalahkan musuh dari luar, melainkan hancur oleh pertengkaran di dalam. Iri satu sama lain, saling curiga, saling menjatuhkan. Musuh tidak perlu bekerja keras kalau kita sibuk merobohkan diri sendiri.
Bacaan pertama menunjukkan arah sebaliknya. Kristus justru menyatukan yang tercerai: Ia rela menjadi kutuk di kayu salib supaya berkat Abraham sampai kepada segala bangsa, supaya yang jauh menjadi dekat. Salib itu tanda pemersatu, bukan pemecah.
Yesus menutup dengan peringatan: "Siapa tidak mengumpulkan bersama Aku, ia mencerai-beraikan." Rupanya di hadapan Kristus tidak ada posisi netral. Kita sedang mengumpulkan, atau sedang menyerakkan.
Hari ini, di rumah atau komunitasku, aku sedang mempersatukan atau diam-diam ikut memecah?
Tuhan, jauhkan aku dari roh yang memecah belah. Jadikan aku pengumpul, bukan penyerak; pendamai, bukan pengipas api. Amin.