Kamis, 10 Oktober 2030
Minta Ikan
Anak kecil yang lapar tidak pernah ragu meminta. Ia menarik ujung baju ibunya, menunjuk-nunjuk, merengek kalau perlu. Ia yakin betul: kalau minta makan, ia akan diberi makan, bukan diberi batu. Keyakinan sepolos itu justru yang mulai hilang saat kita dewasa.
Yesus memakai gambaran itu. "Bapa manakah di antara kamu, jika anaknya minta ikan, akan memberikan ular? Atau, jika ia minta telur, akan memberikan kalajengking?" Lalu kesimpulannya melompat tinggi: jika kamu yang jahat saja tahu memberi yang baik kepada anak-anakmu, apalagi Bapa di sorga.
Tetapi perhatikan apa yang dijanjikan-Nya di ujung. Bukan sekadar ikan, bukan sekadar telur. "Ia akan memberikan Roh Kudus kepada mereka yang meminta kepada-Nya." Pemberian terbesar dari Bapa ternyata bukan barang, melainkan diri-Nya sendiri, hadir dalam Roh.
Di sinilah teguran Paulus mengena. Orang Galatia sudah mulai dengan Roh, tetapi mau mengakhirinya dengan daging, dengan mengandalkan usaha dan aturan sendiri. Seakan setelah menerima Roh secara cuma-cuma, mereka lupa dan kembali menghitung jerih payah.
Kita pun sering meminta kepada Allah seperti mengisi keranjang belanja: ini, itu, sekian. Padahal yang paling Ia ingin berikan adalah Roh-Nya sendiri, kalau saja kita mau meminta.
Hari ini, apa yang sungguh kuminta dari Bapa: tangan-Nya yang penuh, atau Diri-Nya sendiri?
Bapa yang baik, aku sering sibuk meminta pemberian-Mu. Ajarilah aku meminta Pemberi-Mu sendiri: curahkanlah Roh Kudus-Mu ke dalam hatiku. Amin.