‹ Semua renungan

Rabu, 9 Oktober 2030

Sehidangan

Meja makan itu jujur. Dengan siapa kita mau duduk semeja, di situ ketahuan siapa yang sungguh kita anggap saudara. Ada orang yang kita sapa ramah di jalan, tetapi tidak pernah kita ajak makan di rumah. Ada tamu yang kita layani setengah hati karena takut omongan tetangga.

Persoalan seperti itu pernah pecah di Antiokhia. Petrus, yang di sana disebut Kefas, semula makan sehidangan dengan saudara-saudara yang bukan Yahudi. Tetapi ketika datang rombongan dari kalangan Yakobus, ia mengundurkan diri dan menjauh, karena takut. Paulus menegurnya berterang-terang, di depan semua orang. Sebab yang dipertaruhkan bukan soal selera makan, melainkan kebenaran Injil: di dalam Kristus tembok antara kita dan mereka sudah dirobohkan.

Menarik, Injil hari ini justru mengajarkan doa Bapa Kami. Ketika Yesus mengajar kita menyebut Allah "Bapa", Ia sekaligus menjadikan semua orang saudara semeja. Tidak ada yang berdoa "Bapaku"; kita berdoa "Bapa kami". Doa itu sendiri sudah merobohkan sekat.

Maka aneh kalau kita menyebut Allah Bapa yang sama, lalu enggan duduk semeja dengan sesama anak-Nya hanya karena berbeda suku, status, atau masa lalu.

Hari ini, adakah seseorang yang selama ini kuhindari dari mejaku, padahal ia saudaraku dalam Bapa yang sama?

Bapa kami, ajarilah kami sungguh menyebut Engkau kami, agar tidak ada saudara yang kami singkirkan dari meja kasih-Mu. Amin.

Buka Doa Hari Ini lengkap →