Senin, 7 Oktober 2030
Manik demi Manik
Di banyak rumah ada benda kecil yang tergantung di dekat pintu kamar atau terselip di bawah bantal: untaian manik-manik dengan salib di ujungnya. Nenek-nenek kita mendaraskannya pelan setiap senja, manik demi manik, kadang sampai tertidur. Kata Rosario sendiri berasal dari rosarium, kebun mawar, atau untaian karangan bunga. Setiap doa dibayangkan sekuntum mawar yang dirangkai bagi Bunda.
Hari ini, di tengah bulan Rosario, Gereja merayakan Santa Perawan Maria Ratu Rosario. Dan Injil yang kita dengar justru kisah orang Samaria yang baik hati. Sepintas tidak nyambung. Tetapi coba perhatikan kata kuncinya: ketika orang Samaria melihat korban di pinggir jalan, "tergeraklah hatinya oleh belas kasihan." Imam melihat lalu lewat. Orang Lewi melihat lalu lewat. Yang ketiga melihat lalu berhenti.
Bukankah itu yang dilatih oleh Rosario? Kita mengulang doa yang sama sambil merenungkan peristiwa demi peristiwa hidup Yesus, belajar memandang dunia dengan mata Bunda-Nya. Doa yang benar tidak melarikan kita dari jalan, melainkan mengajar kita berhenti bagi orang yang tergeletak di jalan.
Sebab bisa saja kita rajin berdoa tetapi tetap melewati orang yang terluka dari seberang jalan. Paulus dalam bacaan pertama pun memperingatkan jangan sampai kita berbalik dari Injil sejati ke injil lain yang kosong dari kasih.
Hari ini, siapa yang tergeletak di pinggir jalanku, yang selama ini kulewati sambil komat-kamit berdoa?
Bunda Maria, Ratu Rosario, ajarilah aku memandang seperti engkau memandang, agar hatiku tergerak dan kakiku berhenti bagi yang terluka. Amin.