Minggu, 6 Oktober 2030
Tidak Baik Seorang Diri
Kalimat pertama dalam Kitab Suci yang menyebut sesuatu tidak baik bukan tentang dosa, bukan tentang kejahatan. "Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja." Di tengah taman yang serba baik, ada satu hal yang Allah nilai tidak baik: kesendirian.
Maka Allah membentuk penolong yang sepadan. Perhatikan kelegaan Adam ketika akhirnya menemukan yang sepadan itu: "Inilah dia, tulang dari tulangku dan daging dari dagingku." Itu bukan bahasa transaksi, melainkan bahasa orang yang tak lagi sendirian. Dari sanalah lahir kalimat yang dikutip lagi oleh Yesus: keduanya menjadi satu daging.
Orang-orang Farisi datang kepada Yesus bukan untuk belajar, melainkan untuk menjebak. Mereka bertanya soal surat cerai, soal celah hukum, soal sampai di mana perceraian diperbolehkan. Pertanyaan mereka berkisar pada bagaimana caranya berpisah secara sah. Tetapi Yesus menarik mereka mundur, jauh ke belakang, ke awal mula: "Apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia."
Yesus tidak sedang menambah beban bagi mereka yang pernikahannya retak atau kandas. Ia sedang menjaga sesuatu yang kudus dari tangan yang menganggapnya remeh. Sebab ketegaran hatilah, kata-Nya, yang membuat Musa dulu menuliskan izin cerai. Hukum mengalah pada kekerasan hati manusia; tetapi kehendak Allah dari semula lain.
Lalu, seakan sengaja, Markus menempatkan adegan berikutnya persis di situ: orang membawa anak-anak kecil kepada Yesus, dan murid-murid memarahi mereka. Yesus marah kepada murid-murid, bukan kepada anak-anak. "Biarkan anak-anak itu datang kepada-Ku." Barangsiapa tidak menyambut Kerajaan Allah seperti seorang anak kecil, ia tidak akan masuk.
Dua adegan ini ternyata satu napas. Baik pernikahan maupun Kerajaan Allah tidak bisa dimasuki dengan hati yang penuh hitungan. Suami-istri yang saling menghitung untung rugi akan mudah mencari surat cerai. Orang yang datang kepada Allah sambil menimbang jasa akan sukar masuk. Yang dituntut sama: hati anak kecil yang percaya, yang menerima, yang tidak menyimpan syarat.
Surat Ibrani menaruh mahkota di atas semuanya. Yesus, kata penulis, "tidak malu menyebut mereka saudara." Allah yang mempersatukan itu sendiri tidak menjaga jarak. Ia turun, menjadi satu darah dengan kita, memanggil kita saudara.
Hari ini barangkali kita diajak memandang relasi terdekat kita: pasangan, orang tua, anak, saudara. Adakah di sana hati yang mulai mengeras dan mulai menghitung? Dan beranikah kita kembali menjadi seperti anak kecil, yang memeluk lebih dulu sebelum menghitung?
Tuhan, Engkau tidak menghendaki kami seorang diri. Lembutkanlah hati kami yang mengeras, dan ajarilah kami menyambut sesama dan menyambut Engkau dengan hati anak kecil. Amin.