Jumat, 4 Oktober 2030
Saudara Fajar
Pernahkah kita bangun cukup pagi untuk melihat fajar datang? Bukan sekadar terang, melainkan proses ketika langit berpindah dari hitam ke kelabu ke jingga, tanpa suara, tanpa saklar yang kita tekan. Setiap hari terjadi, dan hampir setiap hari kita melewatkannya sambil tidur.
Dari dalam badai Tuhan bertanya kepada Ayub: "Pernahkah dalam hidupmu engkau menyuruh datang dinihari?" Rentetan pertanyaan itu bukan untuk mempermalukan Ayub, melainkan untuk mengembalikannya ke tempatnya: manusia kecil di tengah ciptaan yang begitu besar dan penuh rahasia. Ayub pun terdiam, menutup mulut dengan tangan.
Hari ini kita mengenang Fransiskus dari Assisi, orang kaya yang melepaskan segala miliknya dan justru menemukan seluruh dunia sebagai saudara. Ia menyapa matahari saudara, bulan saudari, bahkan maut pun ia sebut saudari. Ia tidak menaklukkan ciptaan; ia bersaudara dengannya.
Mungkin di situ pangkal damai yang tidak kita miliki. Kita ingin mengatur segala sesuatu, menekan setiap saklar, memiliki setiap hasil. Fransiskus dan Ayub mengajarkan hal sebaliknya: berdiri kecil di hadapan Sang Pencipta, dan justru di situ hati menjadi lapang.
Hari ini, beranikah kita menyapa fajar dan berterima kasih, alih-alih hanya menghitung untung rugi?
Tuhan Pencipta langit dan fajar, ajarilah aku kerendahan hati Santo Fransiskus: memandang ciptaan-Mu sebagai saudara dan Engkau sebagai Bapa. Amin.