Kamis, 3 Oktober 2030
Sawah Menguning
Petani mana pun tahu perasaan ini: padi sudah menguning serempak, siap dituai, tetapi tenaga penuai kurang. Kalau dibiarkan, bulir rontok sia-sia dimakan burung. Panen bukan soal kekurangan padi, melainkan kekurangan tangan.
Persis itulah keluhan Yesus hari ini. "Tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit." Ia lalu mengutus tujuh puluh murid, berdua-dua, mendahului-Nya. Diutus tanpa pundi-pundi, tanpa bekal, tanpa kasut. Modalnya hanya satu kalimat salam: damai sejahtera bagi rumah ini.
Menarik, Ia tidak menyuruh mereka berangkat sendiri-sendiri. Selalu berdua. Sebab kabar damai tidak dititipkan pada pahlawan tunggal, melainkan pada persekutuan kecil yang saling menopang di jalan.
Kita kerap merasa tidak layak diutus: belum cukup pandai, belum cukup suci, belum punya bekal. Tetapi Yesus justru mengirim orang dengan tangan kosong. Yang dibawa bukan perbekalan, melainkan kehadiran dan salam damai.
Sawah zaman ini pun menguning: tetangga yang kesepian, keluarga yang retak, kawan yang kehilangan harapan. Tuannya masih sama berkata, mintalah kepada yang empunya tuaian supaya Ia mengirim pekerja.
Hari ini, di ladang sekecil apa pun tempat kita berdiri, adakah satu salam damai yang bisa kita antar lebih dulu?
Tuhan pemilik tuaian, utuslah aku. Aku datang dengan tangan kosong; penuhilah dengan damai-Mu untuk kubagi. Amin.