Jumat, 20 September 2030
Benih yang Ditanam
Petani tahu satu kebenaran yang tampaknya bertentangan dengan akal. Untuk menuai, benih harus dikubur dulu. Butir yang disimpan rapi di lumbung akan aman, tetapi tidak menghasilkan apa-apa. Baru ketika ia ditanam dan seakan hilang di dalam tanah, ia bertumbuh menjadi banyak.
Hari ini kita mengenang Santo Andreas Kim dan kawan-kawan, para martir Korea. Mereka adalah benih semacam itu. Iman ditanam di tanah Korea dengan darah, dan dari kematian mereka bertumbuh Gereja yang hidup sampai kini. Yang seakan lenyap justru menjadi awal panen.
Keberanian mereka bertumpu pada kebenaran yang ditegaskan Paulus hari ini. Andaikata Kristus tidak dibangkitkan, sia-sialah pemberitaan kita dan sia-sialah iman kita. Kita menjadi orang yang paling malang. Tetapi yang benar ialah, Kristus telah dibangkitkan sebagai yang sulung dari orang-orang yang meninggal.
Karena percaya pada kebangkitan itulah para martir berani mati. Mereka tahu, benih yang dikubur tidak berakhir di kubur. Ada panen yang menanti di seberang maut.
Injil hari ini menyebut para perempuan yang mengikuti Yesus dan melayani rombongan-Nya dengan harta mereka. Mereka menabur pelayanan tanpa nama besar, tetapi ikut menopang seluruh karya. Tidak semua benih ditanam lewat kemartiran. Ada yang ditanam lewat pelayanan sunyi sehari-hari.
Bagian mana dari hidup kita yang enggan kita tanam karena takut kehilangan, padahal justru di situ Tuhan hendak menumbuhkan buah?
Tuhan, teguhkan imanku pada kebangkitan-Mu, supaya aku berani menanam hidupku bagi-Mu tanpa takut kehilangan. Amin.